Menu

Agar Puasa Tidak Mubazir

05/09/2010 | Uncategorized

Penulis : Sylvia Nurhadi ( www.kotasantri.com ) 

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2] : 183).
Bulan Ramadhan sebentar lagi akan tiba. Sebagian besar umat Islam tentunya telah menyadari kewajiban melaksanakan salah satu rukun Islam ini. Namun sudahkah puasa yang kita laksanakan tersebut sesuai dengan apa yang diperintahkanNya?
Tidak seperti ibadah-ibadah lain seperti shalat, zakat, dan lain-lain, puasa adalah satu-satunya ibadah yang tidak mungkin diketahui orang lain. Puasa adalah hubungan langsung dengan Tuhannya, karena hanya Dia dan orang yang bersangkutanlah yang mengetahui apakah ia berpuasa atau tidak.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.” (QS. Qaaf [50] : 16).
***
Tiga Macam Tingkatan Puasa
Para ulama sepakat bahwa puasa terbagi atas 3 tingkatan, yaitu :
1. Puasa yang dibangun di atas pengertian menahan makan dan minum saja. Puasa semacam ini tidak akan mengakibatkan perubahan atau peningkatan spiritual, sebagaimana pernyataan sebuah hadits, ”Banyak orang yang melakukan shaum (puasa) akan tetapi tidak ada hasil untuknya kecuali haus dan lapar saja.”
2. Puasa yang dibangun dengan pengertian dan pemahaman yang benar, yaitu mengendalikan segala perbuatan yang bersifat keduniawian, seperti menahan nafsu makan, minum, syahwat, amarah, dan juga dari perbuatan dan perkataan kotor.
3. Puasa yang tidak hanya mengendalikan segala perbuatan keduniawian saja, namun juga menahan hati dari mengingat selain Allah.
***
Pengertian Takwa
Berdasarkan surat Al-Baqarah ayat 183 di atas, jelas dapat diketahui bahwa puasa yang dimaksud adalah puasa yang dapat mengakibatkan manusia menjadi takwa. Lalu seperti apakah manusia yang takwa itu? Manusia yang takwa adalah mereka yang takut akan Tuhannya, dalam arti ia takut ditinggalkan olehNya, takut tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayangNya. Manusia bertakwa adalah mereka yang membersihkan diri dari segala yang tidak disukai Tuhannya. Untuk itu, ia rela menjauhi segala larangan dan mengerjakan segala perintahNya. Manusia yang takwa bersyukur atas nikmat yang diberikan dan bersabar atas musibah yang menimpanya. Dan itu dilaksanakan setelah berijtihad, yaitu berupaya keras dan maksimal agar mencapai apa yang diinginkannya sesuai dengan ketentuanNya.
“Akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah [2] : 177).
Sedangkan imbalan yang akan diberikan kepada orang-orang yang bertakwa, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaaq [65] : 2-3).
“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaaq [65] : 4).
Ciri-ciri orang takwa terlihat jelas dari perilakunya, mereka tidak berpenyakit hati (sombong, dengki, iri, riya, dan lain-lain), berakhlakul kharimah atau mempunyai akhlak yang baik, dan hidupnya senantiasa tenang dan tentram.
Sebagai kesimpulan agar puasa mencapai takwa, beberapa persyaratan selain menahan nafsu makan, minum, dan syahwat, maka harus dipenuhi hal-hal antara lain :
– Puasa karena iman.
– Meninggalkan ucapan dan perbuatan kotor, termasuk di antaranya adalah meninggalkan ‘ghibah’ (membicarakan kejelekan orang lain) dan menghindari pertengkaran.
– Melakukan ibadah-ibadah sunnah seperti dzikir, membaca Al-Qur’an, melaksanakan shalat-shalat sunnah (Tarawih, Tahajud, Dhuha, dan lain-lain).
– Memberi makan dan minum bagi orang yang berpuasa ketika waktu berbuka.
– dan lain sebagainya.
Sebagai tambahan, ada hadits yang mengatakan bahwa tidak diterima puasa orang yang tiga hari menjelang puasa (Ramadhan) tidak bertegur sapa dengan pasangannya (suami-istri) ataupun tetangga terdekatnya.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepadaNya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran [3] : 102).
Wallahu a’lam bishshawab.
Share to Media

Related For Agar Puasa Tidak Mubazir