Menu

Prilaku di Jalan Raya Cerminan Pribadi kita

29/11/2010 | Uncategorized

Senin, 29 Nopember 2010

Hari minggu kemarin saya mengikuti perjalanan bersama keluarga dari Jogja menuju Sidoarjo dilanjutkan ke kota Bondowoso. Acara keluarga yang jarang kami lakukan ini dalam rangka menghadiri resepsi pernikahan saudara di Jawa Timur. Perjalanan rombongan dengan menggunakan bus wisata ini menjadi hal yang menarik bagi saya, disamping karena saya kami jarang berpergian secara rombongan bersama-sama. Saya juga bisa menikmati indahnya perjalanan, melewati kota demi kota dengan segala dinamika yang terjadi di jalanraya.

Dari perjalanan ini saya bisa belajar, ketika di jalan raya memasuki kota pasuruan terjadi insiden kecelakaan. Sebuah truk gandeng bermuatan bahan bangunan yang tepat di depan bis yang kami tumpangi mendadang menyerempet sebuah sepeda motor matic merah. Kontan saja kejadian ini membuat kami semua terkejut. Nampak dengan jelas, pengemudi sepeda motor mencoba mendahului truk yang ada disebelah kanannya. Namun karena di depan pada saat itu melaju kendaraan lain sehingga keseimbangan dia tidak siap akhirnya terserempet truk besar, dan lebih menyedihkan lagi, dia bersama motor maticnya masuk kedalam kolong truk hingga terseret beberapa meter. Ceceran darah yang ditutup kertas koran membuat kami yang menyaksikan kejadian itu bertambah ngeri. Sementara nasib motor yang hancur masih tersangkut dibawah kolong truk. 
Seketika itu saya menjadi prihatin dan yang ada dalam pikiran kita bahwa  ternyata prilaku di jalan raya bisa menentukan hidup kita, salah salah bisa menjadikan kematian menjemput kita. Bahwa prilaku kita di jalan raya juga menjadi cerminan pribadi  kita sehari-hari. Ketika kita mencoba menelusuri kronologis kejadian setiap kecelakaan yang hampir terjadi setiap hari di jalan raya, khususnya di kota-kota dengan tingkat populasi kendaraannya tinggi. Maka ditemukan bahwa penyebab yang paling dominan dari kecelakaan adalah faktor kesalahan manusia ( human eror ).  Tak bisa dipungkiri, terkadangn saya sendiri masih belum bisa menjaga tingkat emosi ketika berada di jalan raya, terkadang masih senang menyerobot lampu merah, atau lengah tidak menyalakan lampu isyarat ketika hendak berbelok..
Sikap menghormati dan menghargai keberadaan orang lain sebagai salah satu ciri kepribadian positif masih terbilang rendah dalam sikap dan perilaku kita. Apalagi sikap peduli terhadap kepentingan orang lain masih jauh dari kepribadian kita yang cenderung mengedepankan ego dan kepentingan sendiri. Kita pun tampak menjadi individu manusia yang begitu egois, tak peduli ketertiban, dan tak pernah menyadari hidup dalam tatanan kehidupan bersama individu manusia lainnya. Belum positifnya kepribadian kita ini tentu bukanlah pernyataan mengada-ada, bahkan sedikit banyak dapat diamati di jalan raya. Dengan kata lain, jika kita ingin mengetahui bagaimana kepribadian kita, maka lihatlah perilaku kita di jalan raya.
Ya, ternyata perilaku kita di jalan raya sedikit banyak mencerminkan kepribadian kita. Bahkan, kita bisa mencoba melakukan tes kepribadian di jalan raya. Apakah kita termasuk orang-orang yang taat aturan? Lihatlah di jalan raya. Apakah kita termasuk orang-orang yang dapat bersabar? Lihatlah di jalan raya. Apakah kita termasuk orang-orang yang lebih mengutamakan kepentingan orang lain? Lihatlah di jalan raya. Apakah kita termasuk orang-orang yang tidak egois? Lihatlah di jalan raya. Di jalan raya kita dapat mengetahui kepribadian kita secara lebih nyata.

Kepribadian kita yang tercermin di jalan raya itu juga berkorelasi dengan perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan kerja. Saat diawasi pimpinan, maka kita berlagak rajin dan masuk kantor tepat waktu. Namun, perilaku tertib dan etos kerja itu berubah 180 derajat jika tak ada pimpinan di dekat kita. Lebih prihatin lagi dengan perilaku kita yang bekerja asal selesai tanpa mempedulikan kesempurnaan. Ibarat melanggar peraturan dan rambu-rambu lalu lintas, kita menerjang saja tata aturan kerja profesional dan bertanggung jawab. Sebagaimana kebiasan kita lupa membawa SIM dan STNK, kita boleh jadi kurang menegakkan kedisiplinan dalam menunaikan pekerjaan.

Kalau pejabat di jalan raya, gimana yach?? Apakah prilaku ketika menghadapi keramaian di jalan raya bisa dijadikan cerimin dalam kehidupan sehari-hari. Nampaknya kemacetan lalulintas mungkin akan jarang dihaadapi oleh para pejabat, pasalnya ketika dia berserta rombongan hendak melintas, dengan sendirinya kondiri jalan sudah bersih, bebas dari macet sehingga dengan mudah  sang pejabat melintas. Bahkan kadang-kadang pengalihan tersebut malah menimbulkan kemacetan di titik lain. Lalu apakah ini juga menjadi cermin di negara kita tentang prilaku para pejabat ketika di jalan raya??

Related For Prilaku di Jalan Raya Cerminan Pribadi kita