Menu

Guruku Pahlawanku

25/11/2010 | Uncategorized
Spesial Hari Guru 25 Nopember 2010
Hari ini Indonesia memperingati hari yang spesial, Hari Guru ! dibeberapa wilayah diadakan upacara seremonial sebagai tanda untuk memperingati Hari yang spesial bagi para pendidik yang telah melahirkan banyak tokoh bangsa ini. Beberapa spanduk di sudut kota tertulis SELAMAT HARI GURU.
Terinspirasi dari kisah perjuangan para Bapak-Ibu Guru tersebut, saya mencoba mengenang kembali masa-masa kecil ketika masih bersekolah di sebuah Sekolah Dasar (SD ) di wilayah pemukiman transmigrasi di Kalimantan sekitar 20 tahun yang lalu. Tulisan ini didedikasikan buat para Guru saya (khususnya guru SD) sebagai penghargaan dari seorang murid yang tak akan bisa melupakan jasa-jasa mereka.
Sejak tahun 1991 hingga 1996 saya menempuh pendidikan di SD Bukit Mulia 1 tepatnya di Kecamatan Kitanp Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan. Mencoba mengenang masa-masa kecil saya ketika masih di bangku SD memang mengasyikan.
Sambil bernostalgia saya coba mengingat nama-nama guru saya selama 6 tahun di SD Bukitmulia 1   :
Guru Kelas 1  : Bapak Iskak Iswotodiharjo,  beliau orang yang mengajari saya belajar membaca, karena jaman dulu belum ada TK, kami masuk SD dengan bekal nol tanpa bisa mengenal huruf. Selama 1 tahun kami di ajarin membaca.  Sampai sekarang saya tidak dapat kabar dari keberadaan beliau. Tapi jasa beliau tidak pernah terlupakan.
Guru Kelas 2  :  Bapak Edry Darmawi,  guru kelas yang terkenal galak ini lumayan ditakuti, kami sering sekali dimarahi kalau ribut di kelas. Tapi saya banyak belajar dari nasehat-nasehat beliau tentang kedisiplinan.
Guru Kelas 3  : Bapak Cuk Subagio,  yang satu ini punya profesinya sebagai Dalang di kampung kami, hal yang mengesankan adalah ketika beliau mengajar selalu diahiri dengan dongeng tentang wayang. Itu beliau lakukan setiap jam sekolah akan berahir.
Guru Kelas 4  : Kembali untuk kedua kalinya pak Edry Darmawi menjadi wali kelas, tapi apapun itu kami tetap semangat. Guru yang satu ini memang dikenal dengan disiplinnya.
Guru Kelas 5  : Bapak Didik Subiyanto, beliau adalah guru yang pandai memotivasi murid-muridnya. Selama dikelas 5 dari hasil bimbingan pak Didik saya bisa meraih rangking 1, ini menjadi kenangan pertamaku menjadi juara di kelas.
Guru Kelas 6  : Bapak Jumingan, beliaulah guru favorit di sekolah kami, melalui didikan guru yang satu ini setiap lulusan sekolah kami selalu menjadi yang terbaik d kecamatan.
Kenangan tentang guru-guru SD tersebut mungkin terlalu singkat, sulit rasanya menuangkan kisah kepahlawanan mereka yang tidak mungkin bisa dilupakan. Tentunya bukan hanya guru-guru di SD saja, tak lupa saya juga menyampaikan salam buat Guru-Guru di SMP N 2 Kintap ( Pak Kusnaini, Pak Margono, Pak Fikri, Bu Mey, Pak Rahmani dll ) juga guru-guru di SMK N 1 Pelaihari ( Pak Asikin, Pak Suwita, Pak Mulkansyah, Bu Ngesti, Bu Made dll ) mungkin untuk mengingat nama ingatan saya terbatas, tapi kenangan mencari ilmu disana gak akan pernah terlupakan.

Kadang secara pribadi jujur saya merasa sedih ketika di negeri ini terkadang Guru masih belum mendapatkan perhatian yang merata. Maksudnya adalah nasib guru di perkotaan tentu berbeda dengan para guru yang harus rela berjuang mengajar di pelosok desa, di pedalaman, dan di sekolah-sekolah yang masih tertinggal. Kalau tidak percaya, coba bandingkan kisah Guru pengajar di Jakarta, dengan kisah para guru yang di Pedalaman Kalimantan, pastinya kisah mereka bagaikan bumi dan langit.
Bangsa ini tidak pernah akan menjadi bangsa besar jika tidak pernah perduli pada pendidikan dan nasib guru-guru yang mendidik tunas-tunas bangsa. Masih ada cerita pilu tentang nasib guru honor  yang harus menjadi tukang ojek atau pedagang keliling untuk mencari tambahan penghasilan. Akibatnya banyak orang yang menjadi guru hanya karena terpaksa daripada tidak mempunyai mata pencaharian. Sehingga jarang sekali guru-guru baru ini yang menjadi guru karena panggilan jiwa dan ingin mengabdi pada pendidikan anak bangsa.
Sebenarnya ada hal yang saya juga kurang setuju, istilah Guru sebagai “Pahlawan tanpa Tanda Jasa”  entah darimana asal istilah itu, yang jelas setelah saya pikir-pikir, kok istilah itu seperti merendahkan profesi guru ya.  Terkesan guru harus  menerima nasib mereka berjuang memerangi kebodohan tanpa diberi imbalan apapun.
Gelar Pahlawan bagi guru saya sangat setuju, karena beliau memiliki jasa luar biasa dalam memerangi kebodohan, beliau yang mampu menciptakan seorang presiden, menteri dan orang-orang sukses lainnya.  Tapi tambahan istilah “Tanpa Tanda Jasa” terkesan guru gampang dilupakan jasa-jasanya. Saya gak bisa banayk komentar dalam hal ini. Apapun itu, yang jelas saya tidak akan pernah lupa dengan peran guru-guru saya selama ini.  Hari yang spesial ini mari kita gunakan untuk mengenang jasa-jasa mereka. Kita kirimkan do’a  sebagai penghargaan bagi jasa dan perjuangan mereka.
Selamat Hari Guru Pahlawanku, Jasamu tak akan kami lupakan,   
I Love You all….

Related For Guruku Pahlawanku