Menu

28/10/2010 | Uncategorized

28-10-2010 ( Untuk Sumpah Pemuda )

Sepertinya nyanyian Ibu Pertiwi kini sedang bersedih sangat pantas untuk bangsa Indonesia, bagaimana tidak, ujian bertubi-tubi dengan bencana yang terus bersambung seolah tidak pernah henti-hentinya melanda negeri ini.
Dalam bulan ini saja tercatat beberapa tragedi yang menyisakan tangisan para korban, sebut saja banjir bandang di Wasior papua, bencana alam yang konon memakan korban ratusan jiwa ini begitu menyayat hati. Luka bagi saudara kita di ujung timur belum pulih hadirlah Tsunami di mentawai menerjang saudara kita di bagian barat, hingga kini korban terus terus bertambah. Seolah tak mau kalah dibagian tengah negeri ini pun melengkapi dengan bencana letusan gunung Merapi. Negeri ini seolah tanpa henti di hantam bencana yang bertubi-tubi, rakyat Indonesia bingung mencari kemana perlindungan dari ibu pertiwi…?
Sebagai bangsa yang begitu mengedepankan Allah dan do’a-do’a yang terus dipanjatkan, sebenarnya kita patut bangga karena sebagaian dari para korban yang masih tersisa belum pupus harapan mereka. Disela-sela isak tangis yang ada, masih tumbuh pengharapan dan doa yang mereka panjatkan pada sang pencipta. Ada kalanya sebagaian yang menyadari betapa kita sudah terlampau jauh berbuat dosa. Sehingga bencana yang datang menjadikan ujian bagi kita untuk melangkah dengan prilaku yang lebih baik.
Harunya tumbuh kesadaran bagi diri setiap hamba, bahwa sebagian dari kita secara lahiriah rajin beribadah kepada Allah, namun sebenarnya hati juga tak pernah lupa melakukan kejahatan. Walaupun mulut kita berulangkali meneriakkan nama-Nya, namun dengan mulut yang sama kita mengutuki sesama kita–yang notabene adalah ciptaan-Nya. Kita tahu bahwa perbuatan kita jahat, namun kita tak mau hati kita “terhakimi” oleh sabda-Nya. Oleh karenanya, kita lebih suka mencondongkan telinga pada nabi-nabi palsu yang tahu bagaimana menyenangkan hati kita.
Sesungguhnya, Tuhan masih dan akan selalu sayang pada kita semua. Ia ingin kita kembali kepadaNya. Bencana di Wasior, Mentawai, dan Merapi hanyalah salah satu cara-Nya untuk menarik kita kembali kepada-Nya. Jika Tuhan tak sayang pada manusia, tentulah Ia telah memusnahkannya ketika pertama kali mereka melanggar titah-Nya. Jika Tuhan tak sayang pada manusia, tentulah Ia takkan mengirimkan nabi-nabi dan kitab suci. Jika Tuhan tak sayang pada manusia, tentulah Ia tetap bertahta di kediaman-Nya, tak mau repot-repot turun jadi manusia dan memberikan nyawa-Nya demi mereka.
Inilah saat-saat kritis bagi Indonesia. Inilah saat-saat penting untuk berdoa baginya. Ini bukan waktu untuk saling menyalahkan. Ini bukan waktu untuk saling menuduh. Ini waktu untuk mengulurkan tangan. Jangan berlambat memberikan bantuan. Ini waktu untuk bergandengan tangan. Ini waktu untuk saling mendoakan. Ini waktu untuk bersyafaat kepada Tuhan, bagi bangsa ini, bagi negeri ini, bagi kita sendiri.
Saya yakin, seyakin-yakinnya bahwa dalam setiap awan kelabu dengan berbagai bencana yang melanda negeri ini selalu saja ada lapisan keemasan yang hadi memberi pengharapan bagi kita. Begitu kiranya Allah menguji hambanya, atau barangkali malah menghukum kita. Semoga saja kita mengambil banyak hikmah dari apa yang ada.

Related For