Menu

Sebelum Ramadhan Berlalu

Saat ini, kita masih berada dalam genggaman bulan Ramadhan. Hari-hari akhir menunggu selesainya ibadah puasa kita, tinggal hitungan hari kita akan ditinggalkan Ramadhan. Sebuah bulan yang sarat akan torehan-torehan monumental yang menandai kemenangan kaum Muslimin. Ibadah puasa sesungguhnya kesempatan untuk melakukan perubahan secara mendasar dalam kehidupan pribadi Muslim maupun masyarakat Islam. Betapa tidak, begitu banyak peluang yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya di bulan ini.

Ramadhan bulan yang sangat kondusif untuk memulai hidup baru. Ibarat ulat yang menjijikkan dan memakan segala daun, melalui puasa ia mampu mengubah diri menjadi kupu-kupu yang indah dan menarik hati setiap orang yang memandang. Hanya orang-orang yang benar-benar keterlaluan saja yang tidak tertarik dengan momentum ini.

Namun sesaat lagi ramadhan akan segera berlalu meninggalkan kita, muncul pertanyaan serius, apa yang telah didapatkan umat Islam dari puasa yang telah dijalani dan dilalui setiap tahun. Bukankah mereka adalah para alumni Ramadhan setiap tahunnya? Perubahan apa yang mereka dapatkan?

Sepintas perubahan itu ada pada kehidupan umat Islam di bulan Ramadhan. Di awal-awal Ramadhan, kita mendapati masjid-masjid yang mendadak ramai dengan jamaah. Di sana-sini ada perlombaan tilawah al-Qur`an. Tak mau kalah, stasiun televisi juga berlomba-lomba menyajikan acara spesial bertajuk Ramadhan. Tak ketinggalan para elit pejabat tergerak untuk menyelenggarakan shalat Tarawih di rumah dinasnya, mengadakan buka bersama dengan anak-anak yatim dan orang-orang miskin, juga umroh bersama keluarga. Tetapi ketika Ramadhan berlalu, maka berlalu juga segala aktivitas ibadah itu. Pelan-pelan kembali kepada kondisi semula. Allah Ta’ala yang ditaati di bulan Ramadhan, diingkari di bulan-bulan yang lain.

Ada beberapa hal yang patut dikoreksi dari cara pandang, sikap, serta praktek yang dilakukan umat Islam dalam menjalani ibadah Ramadhan dari tahun ke tahun. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, dan para ulama terdahulu begitu memuliakan bulan Ramadhan. Mereka menangisi kepergian Ramadhan sebagaimana dulu mereka menyambut gembira kedatangan tamu agung tersebut.

Bagaimana Rasulullah menjalani hari-hari di bulan Ramadhan? Bagi Rasulullah dan para sahabat, Ramadhan adalah bulan yang sangat berharga sehingga mereka tidak melewatkan setiap detiknya tanpa melakukan ibadah dan amal saleh. Mereka menghiasi siang dan malamnya dengan shalat, berinteraksi dengan al-Qur`an, zikir, doa, menuntut ilmu dan mengajarkannya, bersedekah, bekerja keras dan berjihad. Tidak ada waktu yang berlalu sia-sia.

Jangan Sia-siakan Ramadhan

Kini, kita lihat keadaan umat Islam. Di bulan ini, dengan alasan berpuasa masih banyak umat Islam yang mengisi siang harinya dengan bermalas-malasan, memperbanyak tidur, dan melakukan aktivitas sia-sia bahkan maksiat. Orang lebih senang menghabiskan waktu sepanjang hari dengan menonton televisi, main video game dan internet, main kartu, memancing, dan sebagainya. Menjelang buka puasa berbagai acara hiburan digelar, mulai dari konser musik sampai kebut-kebutan. Bahkan ada yang memanfaatkannya untuk berjudi. Malam harinya diisi dengan begadang dan mengobrolkan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Yang paling memprihatinkan adalah ketika memasuki sepuluh hari terakhir. Seperti minggu ini, lihatlah masjid-masjid mulai sepi, sebaliknya pusat-pusat perbelanjaan ramai dikunjungi orang. Ibu-ibu rumah tangga disibukkan dengan berbagai persiapan menyambut lebaran. Belanja pakaian dan bahan-bahan makanan. Aktivitas transportasi darat, laut, dan udara padat luar biasa. Mereka berdesak-desakan menghabiskan waktu di jalan-jalan, terminal, stasiun kereta api, bandara, dan pelabuhan. Sudah hilang konsentrasi untuk menjalani hari-hari akhir Ramadhan.

Padahal, itulah saat-saat yang paling menentukan keberhasilan ibadah Ramadhan kita. Inilah hari-hari yang ditangisi oleh Nabi dan para sahabat karena Ramadhan segera berlalu. Inilah saat-saat Rasulullah dan para sahabat berburu lailatul qadar, dengan bangun malam, shalat, zikir, membaca al-Qur`an dan tidak tidur kecuali sedikit saja. Rasulullah dan para sahabat ber-i’tikaf, berdiam diri di masjid, konsentrasi penuh untuk menjalankan berbagai aktivitas ibadah.

Ramadhan adalah anugerah untuk kita. Mari kita manfaatkan waktu yang tersisa ini sebaik-baiknya. Tengoklah penyesalan orang-orang yang telah dipanggil kembali oleh Allah, seperti diceritakan ayat di atas. Mereka ingin kembali ke dunia walaupun hanya sesaat. Mereka ingin waktu sebentar saja untuk menebus segala kelalaian seumur hidup.

Mumpung masih ada waktu, jangan sia-siakan Ramadhan kita. Tanpa Ramadhan, terlalu berat bagi kita untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kita sebelas bulan kemarin. Mari kita bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan kita di tahun-tahun yang lalu. Tak lupa kita berdoa semoga Allah memanjangkan umur kita sehingga bisa berjumpa kembali dengan Ramadhan tahun depan dan kita berharap bisa mempersiapkan diri agar lebih baik lagi.

Sumber : http://majalah.hidayatullah.com

Related For Sebelum Ramadhan Berlalu