Menu

Yang Bersorak dan Yang Menjerit Karena Rupiah tembus Rp.14.000 per USD

23/08/2015 | BERITA, EKONOMI

image

Rupiah telah menyentuh Rp 13.900 per dollar USD (Jumat, 21/8/2015). Bukan tidak mungkin besok, Senin (24/8), Rupiah akan menembus level psikologis Rp 14.000 dan terus merosot hingga Rp 15.000 per dollar USD pada hari-hari selanjutnya.

Usaha-usaha untuk menjaga Rupiah agar tidak tergerus terus, telah banyak di lakukan. Menteri Keuangan kita, Bambang Brodjonegoro sibuk mencari kambing hitam penyebab Rupiah terus merosot seraya mengatakan bahwa Rupiah sudah undervaluable. Menko Perekonomian yang baru, Darmin Nasution, melakukan usaha senyap (entah apa) untuk mengangkat kembali Rupiah dari keterpurukannya.

Presiden Jokowi sendri, sibuk membangun optimisme kepada rakyat bahwa ekonomi kita akan meroket bulan September, Oktober dan November tahun ini. Sementara Wapres Jusuf Kalla sibuk menghimbau para pengusaha agar membatasi penggunaan dollar. Bank Indonesia setali tiga uang. Para pejabat BI sibuk juga mengeluarkan peraturan pembatasan transaksi Dollar di perbankan.

Pelemahan Rupiah sebetulnya hal yang biasa apalagi jika sifatnya hanya berfluktuasi wajar, lalu kembali ke level terkuatnya. Namun pelemahan Rupiah kali ini benar-benar mengkhawatirkan karena hampir menembus Rp 14.000 per dolar AS. Pelemahan Rupiah itu adalah yang terburuk sejak tahun 1998 dan menempatkan Rupiah mata uang terendah keempat di dunia.

Lalu siapa yang bersorak jika Rupiah terus melemah hingga mencapai level Rp 14.000- 15.000 per Dollar AS?

Pertama, para pemilik tabungan Dollar. Bagi mereka yang sudah terbiasa menabung menggunakan mata uang dolar, maka kondisi saat ini merupakan hal yang sangat menggembirakan. Betapa tidak, dengan semakin menguatnya mata uang dolar maka para pemegang Dollar akan dipastikan mengalami keuntungan jika menukar tabungan Dollar mereka kedalam mata uang Rupiah. Bagi mereka yang tidak mempunyai rasa nasionalisme akan bertindak sebagai spekulan macam George Soros, memborong Dollar di pasaran. Dengan demikian Dollar semakin langka dan harganya akan semakin meroket.

Kedua, para pengusaha ekspor. Para pengusaha yang produknya dijual ke luar negeri akan bersorak karena mendapatkan keuntungan. Alasannya biaya produksinya di Indonesia berupa Rupiah namun akan mendapatkan Dollar dari hasil penjualannya di luar negeri. Asalkan komponen produksinya tidak bergantung pada bahan-bahan yang harus diimpor dari luar negeri, maka para ekportir akan kendapat keuntungan besar. Namun jika bahan baku juga mereka impor, maka kemungkinan mereka hanya sedikit mengalami keuntungan dengan melemahnya rupiah. Walaupun begitu, seiring dengan melemahnya rupiah, maka biaya-biaya untuk beban yang lainnya pun juga ikut naik. Jadi, keuntungan yang didapat pun tidak terlalu besar.

Ketiga, sektor pariwisata. Melemahnya nilai tukar Rupiah akan membuat negara atau para pemegang dolar di luar negeri relatif lebih kaya jika mereka berada di Indonesia. Objek wisata Indonesia pun akan makin menarik minat kunjungan wisatawan dari luar negeri karena dengan Dollar yang dimiliki, maka beragam fasilitas yang ada di Indonesia kelihatan murah. Dengan kondisi Rupiah yang terpuruk, maka para wisatawan luar negeri akan semakin tertarik melancong ke Indonesia. Itulah sebabnya program pertama dari Menko Maritim dan Sumberdaya, Rizal Ramli, adalah meningkatkan sektor pariwisata.

Keempat, para pekerja freelance. Dibalik melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS, para pekerja bebas (freelance) yang dibayar atau digaji dengan menggunakan mata uang dolar diuntungkan. Ini menjadi berkah bagi mereka mengingat setiap gaji yang diterimanya tentu akan menjadi lebih besar jika ditukar kedalam mata uang rupiah. Ternyata ada banyak juga orang Indonesia yang menjadi seorang pekerjafreelance yang bekerja sama dengan sejumlah perusahaan asing. Betapa tidak, dalam sekali proyek biasanya mereka dapat dibayar dengan gaji 10 USD per jam. Jika dalam sehari dihitung delapan jam kerja, maka seorang pekerja freelance akan mendapat 80 USD per hari atau setara dengan Rp 1.120.000 (kurs 14.000/per Dollar). Gaji tersebut tentu bukan jumlah yang sedikit.

Kelima, gaji TKI di luar negeri semakin besar. Tak jauh berbeda dengan pekerja freelance, para Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri juga akan ketiban rejeki nomplok. Betapa tidak, mereka yang bekerja serabutan sebagai seorang pembantu rumah tangga saja bisa menerima gaji hingga Rp 7 juta per bulan. Seorang pembantu rumah tangga di Hong Kong misalnya, rata-rata mereka akan menerima gaji HKD 4500 per bulan. Dengan kondisi nilai tukar rupiah saat ini maka bisa dipastikan para TKW akan semakin banyak mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Jika ada yang bersorak, maka sebetulnya lebih banyak pihak yang menjerit jika Rupiah terus melemah hingga mencapai level Rp 14.000- 15.000 per Dollar AS. Siapa mereka?

Pertama, para importir. Para pengusaha yang mengandalkan bahan baku dari luar negeri maupun bahan-bahan produksi akan sangat terpukul dengan melemahnya rupiah. Bila pangsa pasar produk tersebut di luar negeri atau dijual kembali ke luar negeri maka relatif tidak berpengaruh, namun bila produknya di jual di dalam negeri Indonesia maka harganya menjadi naik. Dengan naiknya harga, maka omzet penjualan bisa menurun. Bila Rupiah terus terperosok, banyak perusahaan terpaksa melakukan penghematan dan efisiensi. Para pengusaha akan  mengurangi biaya produksi dengan cara melakukan perumahan karyawan hingga PHK. Hal ini akan makin memperburuk kondisi perekonomian Indonesia dan bisa memicu gejolak sosial.

Kedua, para pemilik utang luar negeri: pemerintah dan swasta. Dengan melemahnya Rupiah, maka jumlah utang luar negeri dari pemerintah dan swasta akan makin membesar. Memang di sisi lain penerimaan negara seperti minyak mentah yang dijual ke luar negeri akan semakin besar. Namun jika penerimaan negara dalam Rupiah seperti pajak, maka akan mengalami kesulitan keuangan dalam membayar utang luar negeri. Utang luar negeri akan membengkak dan akan menjadi beban. Upaya para pengutang untuk memperoleh dolar dalam rangka membayar utang yang jatuh tempo, bila jumlahnya sangat besar, juga dapat makin memperparah pelemahan nilai tukar rupiah.

Ketiga, para pelakua dunia bisnis. Para pengusaha yang menjual barang-barang elektronik, suku cadang otomotif dan produk industri berbahan baku impor akan terimbas meningkatnya harga jual. Banyak perusahaan yang akan terbebani dengan rugi selisih kurs. Dengan beban selisih kurs, maka mau tidak mau para pengusaha akan menaikkan barang-barang dagangannya. Jika harga naik, otomatis penjualan turun karena permintaan turun. Bisnis pun lesu.

Keempat, dampak pada suku bunga. Pelemahan Rupiah akan memberikan dampak pada kenaikan suku bunga. Tingginya suku bunga akan menghambat pertumbuhan kredit. Pelemahan rupiah akan memicu tingginya risiko kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL).

Kelima, wisata atau belajar ke luar negeri. Warga negara Indonesia yang ingin berwisata ke luar negeri atau belajar ke luar negeri, akan merasakan dampaknya, karena biaya akan lebih mahal.

Dampak paling buruk jika Rupiah semakin melemah adalah krisis ekonomi. Awal kerusuhan yang terjadi tahun 1998 dimulai dengan krisis moneter, disusul oleh krisis ekonomi dan puncaknya pada krisis politik. Peristiwa buruk tahun 1998, telah membuat Indonesia mundur ke belakang 10 tahun. Bila kejadian yang sama kembali terulang, maka Indonesia akan mundur beberapa tahun ke belakang.

Oleh karena itu, setiap komponen baik pemerintah, swasta maupun rakyat Indonesia harus bersatu dalam menghadapi dampak buruk melemahnya Rupiah. Caranya, masyarakat harus mengutamakan konsumsi produk-produk dalam negeri, tidak bertindak sebagai pelaku spekulan atas Dollar tetapi mencintai Rupiah. Masyarakat juga diminta agar tidak menjadi penghianat bangsa secara diam-daiam dengan memanfaatkan pelemahan nilai tukar rupiah sebagai ajang memperkaya diri sendiri.

Pemerintah secepatnya melakukan swasembada beras, daging sapi, bawang, cabai, kedelai, gula, garam hingga singkong sehingga tidak perlu diimpor dari luar negeri. Pemerintah juga jika terpaksa berutang, lebih baik meminjam uang rakyat dengan menerbitkan lebih lanjut surat utang kepada rakyat dan bukan meminjam utang kepada luar negeri.

Pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik dan menjauhi korupsi juga akan sangat berperan dalam menghemat pengeluaran negara sehingga uang negara yang terbatas akan bisa digunakan untuk sektor-sektor produktif, meningkatkan lapangan kerja dan akhirnya kita bisa keluar dari krisis.

Asaaro Lahagu

Sumber : www.kompasiana.com

Related For Yang Bersorak dan Yang Menjerit Karena Rupiah tembus Rp.14.000 per USD