Menu

Berprestasi tapi Miskin, Gagal dapat Beasiswa

07/06/2012 | CORETAN, Edukasi, INSPIRATIF

Judul diatas rasanya masih pantas untuk sebuah kisah seorang anak bangsa yang baru saja meraih prestasi dengan nilai tertinggi tingka SMA/SMK tahun ini. Kita pastinya belum lupa dengan kisah seorang Mutiarani, gadis asal Semarang yang berhasil mendapat nilai tertinggi Ujian Nasional beberapa waktu lalu.

Mutiarani siswi SMKN 2 Kota Semarang yang meraih nilai tertinggi dalam ujian nasional, tak lolos dalam seleksi program beasiswa Bidik Misi. Mutiarani mendaftarkan diri dalam program Bidik Misi di Universitas Negeri Semarang untuk jurusan akuntansi. “Saya sudah dikabari. Pihak sekolah yang mengabarkan saya tak lulus program Bidik Misi,” kata Mutiarani.

Karena tak lolos program beasiswa itu, kini Mutiarani belum dapat memastikan apakah akan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi atau tidak. Ketiadaan dana menjadi alasan utamanya. “Soalnya, masalah biaya ini bukanlah hal yang mudah,” kata dia. Saat ini Mutiarani masih berembuk dengan ibu serta keluarganya.

Membaca kutipan berita yang saya petik dari Tempo , sungguh ironis. Dimasa sekarang ini masih saja ada siswa miskin sulit untuk sekolah. Kepedihan Mutiarani mewakili kepedihan seluruh anak-anak lain di negeri ini, masih banyak yang juga memiliki prestasi tapi akhirnya harus menelan seluruh harapannya, membuang cita-citanya. Bukankah pendidikan itu adalah hak bagi setiap warga negara, dan konon negara menjamin hak dari setiap putra-putri bangsa untuk mendapat pendidikan yang layak. Jika ada pak Menteri Pendidikan, saya ingin mengatakan bahwa pendidikan di negeri kita masih kacau balau.

Untuk mengingatkan, nilai yang diraih gadis remaja asal semarang ini adalah sebagai berikut :

Nilai bahasa Indonesia 9,8, bahasa Inggris 9,8, matematika 10, kompetensi akuntansi 9,0, sehingga kalau Jumlah Total UN Murni = 38,60. Sedangkan nilai di sekolah adalah 36,34 dengan pemerincian nilai bahasa Indonesia 9,02, bahasa Inggris 9,10, matematika 9,19, serta kompetensi keahlian 9,03. Jika dua nilai itu dikombinasikan dengan formula 60:40, nilai akhir Mutiarani adalah 37,70 dengan pemerincian nilai bahasa Indonesia 9,5, bahasa Inggris 9,5, matematika 9,7, serta kompetensi keahlian 9,0.

Gak yakin kalau dia emang miskin? cek langsung ke rumahnya dong, secara ekonomi, dia masuk dalam ketegori siswa miskin. Dia berasal dari keluarga pas-pasan. Ayahnya, Juwarto, seorang kuli buruh yang meninggal dunia pada 2007 lalu karena sakit. Sedangkan ibunya, Sutarmi, 58 tahun, sehari-hari hanya bekerja sebagai pembantu serabutan di rumah tetangganya. Upah yang didapatkan Sutarmi hanya Rp 150 ribu per pekan atau Rp 600 ribu per bulan. Mutiarani merupakan anak bungsu dari tiga saudara. Kini, di rumahnya ia tinggal bersama ibu dan dua kakaknya yang juga semua perempuan.

Kurang apa lagi? kenapa hingga dia tidak lolos beasiswa? Kenapa dia dibiarkan bingung, dan terancam untuk tidak kuliah. Dimanakah letak keadilan pendidikan anak-anak miskin? apakah benar bahwa yang miskin itu dilarang untuk kuliah? meskipun cukup pintar dan bahkan lebih pintar dari yang kaya?

Haloow…. Pak Menteri, tolong sampaikan pesan buat pak Presiden yang kami hormati, jangan hanya pintar beretorika tentang pemerataan hak pendidikan, tapi lihat kondisi dilapangan. Jangan biarkan Mutiarani-Mutiarani lain yang tersebar di negeri ini harus rela terpinggirkan. Sambil geleng-geleng bercampur rasa gemes dan heran dengan negeri ini, saya hanya beraharap ada kabar gembira dari Mutiarani. Semoga!

Related For Berprestasi tapi Miskin, Gagal dapat Beasiswa