Menu

Berani Menulis itu Hebat

meu

Sebagai seorang pendidik, seringkali saya memotivasi dan  memberi pemahaman kepada para siswa di tempat saya mengabdi  untuk membuat karya berupa tulisan. Namun terkadang banyak diantara para pelajar saat ini yang masih malas untuk menulis. Jangankan mereka yang masih pelajar, kita saja orang dewasa bahkan para akademisi dan profesional yang sehari-hari bergelut dengan buku jarang yang mau menyempatkan waktu untuk menulis.

Alasan yang sering mereka ungkap adalah keterbatasan waktu, ini seperti alasan saya akhir-akhir ini yang jarang menulis di Kompasiana ini. Atau ada juga yang jujur mengatakan memang nggak bisa nulis. Padahal menulis itu bukan soal teori, menulis adalah praktek.

So, dalam beberapa kesempatan motivasi dan pelatihan sering saya tekankan betapa mudahnya menulis. Menulis itu semudah kita menggerakan jari-jari diatas keyboar. Menulis itu semudah kita menuliskan status akun kita di facebook, twitter atau media lainnya.

Mengapa kita harus menulis, pertanyaan ini pernah terngiang dalam benak saya dahulu ketika awal-awal ingin menulis. Beberapa alasan mengapa kita harus menulis adalah :

#Menulis itu Sedekah Ilmu, Ide dan Pemikiran

Dengan menulis kita menuangkan ilmu dan pemikiran kita tentang  banyak hal. Pemikiran-pemikiran yang kita tuangkan dalam bentuk tulisan kadang menjadi solusi bagi para pembaca tentang segala permasalahan. Dan bukankah kita sudah faham bersama bahwa bersedekah itu tidak harus dengan limpahan harga, tapi juga bisa melalui ilmu dan pemikiran kita.

Menulis sebagai sarana dakwah paling efektif

Sebagai aktifis dakwah saya banyak terbantu dengan banyak buku yang saya baca, buku-buku bermnfaat yang cenderung memberi nasehat merupakan bentuk dakwah paling efektif karena bisa langsung mengena dihati para pembacanya. So, bagi kamu aktifis dakwah, sudah saatnya mencoba menulis.

 

Menulis meninggalkan jejak sejarah penuh manfaat 

Kalau gajah mati meninggalkan gading,  harimau mati meninggalkan belang, maka kita selaku generasi muda yang cerdas ketika sudah tiada akan lebih baik bisa meninggalkan karya. Perubahan peradaban akan menjadikan kita tidak akan dikenal, kecuali lewat karya-karya kita. Sehingga menulis bisa menjadi salah satu cara agar nama kita tetap abadi, dikenang meskipun kita sudah tiada.

Alasan Tidak Menulis

Banyak orang beranggapan bahwa menulis itu susah, menjadikan kita tambah stres, bingung dan beragam alasan lainnya. Bagi yang sudah menikmati zona nyaman dengan segala aktivitasnya, pelajar, mahasiswa, pekerja dan lain-lain menulis diibaratkan menyita banyak waktu yang bisa menggangu aktivitasnya. Ada juga sebagaian yang memang tidak percaya diri dengan hasil tulisan yang dia buat, sehingga enggan untuk melanjutkan tulisan yang sudah dibuat.  Yang lebih parah kalau kita sudah memberikan label atau vonis bahwa kita tidak punya bakat menulis, dan memang bukan penulis, sehingga gak mungkin bisa menulis ini kesalahan fatal yang harus kita cegah sebelum waktunya.

Menulis itu Mudah

Menulis itu mudah, kunci utamanya adalah kemauan. Yup tidak ada lain, kecuali mau atau tidak mau. Menulis bukan soal mampu atau tidak mampu, tapi mau atau tidak mau. Kalau ada kemauan dipastikan akan ada jalan, sebagaimana usaha apapun yang pernah kita lakukan, bahwa kemauan adalah kunci utama untuk bisa berhasil.

Selain kemauan, seorang penulis pemula harus terus melatih dirinya untuk terbiasa menambah perbendaraan kosa kata. Salah satu cara yang paling disarankan adalah membaca. Pertanyaannya, berapa buku yang sudah kita baca saat ini. Jangan pernah berharap orang lain akan membaca tulisanmu, kalau dirimu saja malas membaca buku.

Kurangnya bahan atau kosa kata yang mereka miliki ini menyebabkan kita blank dan tulisan kita masih berputar-putar serta tidak berkembang.  Mengatasi masalah ini tentu saja harus dengan kerakusan kita membaca. Yup, tidak ada solusi lain bagi penulis pemula untuk tidak rakus membaca. Para penulis yang hebat seperti Andre Hirata sekalipun, hingga kini beliau masih rajin membaca. Jangan harap orang lain mau membaca tulisan kita, kalau kita saja malas membaca. Jadi kuncinya adalah perbanyaklah bahan bacaan kita, dengan banyak membaca kosa kata kita akan semakin banyak dan dijamin tidak akan blank lagi ketika menulis.

#Mulai Menulis Sekarang !

Menulis juga bukan soal teori-teori tekhnis, menulis adalah soal praktek, jadi apalah guna kita mengerti teori bermacam-macam cara menulis, tapi tidak pernah kita coba untuk memulai dari sekarang. So, jangan pikir lama-lama, menulislah dari sekarang, dan sekarang juga mulai menulis.

Maka benarlah apa yang dikatakan para penulis handal, bahwa kunci untk bisa menulis adalah mulai menulis. Dan kunci untuk bisa memulai menulis adalah segera menulis kalimat pertama yang akan kita tulis. Menulislah, dan lihat apa yang akan terjadi.

“Berani  Menulis itu Hebat”

Kalimat yang saya katakan kepada para pelajar untuk memotivasi mereka agar segera menghasilkan karya-karya dari tulisan mereka. Menulis itu hebat, dan menariknya ketika saat saya suruh mereka praktek langsung, selalu saja ada yang blank, bingung gak tau harus menulis apa. Kesulitan ide, itu yang menjadi keluhan mereka padahal ide itu muncul dari banyak sudut. Kita bisa menemukan ide dari berbagai kondisi yang kita lihat, dengar, rasakan, disekitar kehidupan kita.

Jangan Ragu Mencoba

Segera temukan ide yang menarik, jangan pernah ragu mencoba dan nikmatilah kata demi kata yang  akan terus keluar dari pikiranmu.  Harapan paling dalam, bagi para pendidik seperti saya ini tentu adalah generasi kita ini bukan hanya generasi yang pandai menikmati karya, tapi bisa menciptakan karya. Sudah saatnya kita terus motivasi mereka untuk mencoba menulis, agar bisa menjadi generasi yang meninggalkan jejak manfaat sebagai pengabdian abadi dengan karya yang bermanfaat dan tak lekang oleh waktu. Selamat mencoba !

www.kompasiana.com/www.masodjie.com/berani-menulis-itu-hebat_56cff566507a61540e6dfe2c

Related For Berani Menulis itu Hebat