Menu

Renungan Jum’at ini

11/05/2012 | CORETAN, MOTIVASI, REMAJA ISLAM

Tiap pagi kita bangun dari kematian semu kala tidur. Kita kemudian bersiap melakukan tugas utama kita sebagai hamba Allah SWT. Diawali dengan Shalat subuh, kemudian dilanjutkan dengan membenahi rumah tangga kita, mendampingi anak mempersiapkan berangkat menuntut ilmu dan sebagian membantu istri melakukan aktifitas rutin lainnya. Bangun pagi sangat berarti bagi semua makhluk, tidak hanya bagi manusia.

Bila kita lihat alam sekitar kita, pagi hari adalah waktu seagian besar makhluk Allah bertasbih dengan cara mereka. Matahari bangkit dari peraduannya dan menghangatkan bumi dengan sinarnya yang sangat bermanfaat. Kehangatan dari sinar surya itu kemudian membangunkan tumbuhan untuk segera melakukan fofosintesis, menebar oksigen, menghembuskan kesejukan. Kita amati burung, mereka berkicau menyemarakkan pagi dengan kemerduaan suaranya. Burung-brung mengepakkan sayapnya menuju sumber makanan yang Allah sembunyikan dan hanya merekalah yang tahu. Kupu-kupu juga ikut mengajak seluruh makhluk untuk beranjak dari suasana kemalasan dengan keindahan kepakan sayapnya dan kelihaiannya menghisap nektar dan mengawinkan bunga jantan dan betina, hingga terjadi pembuahan. Demikian yang terjadi pada makhluk-makhluk lain, semua bergeliat, bergerak dan bersegera dan bersemangat menjemput karunia Allah SWT dan tunduk pada titah-Nya.

Fenomena alam semesta merupakan dalil kauniyah atau bukti-bukti kebenaran di alam yang diperuntukkan pada manusia agar mereka merenungi dan mengambil pelajaran.
Berbicara tentang semangat dalam menjemput karunia dan beribadah kepada Allah, banyak sekali sarana yang bisa dijadikan sumber inspirasi dan motivasi baik kita agar semangat ini tidak padam. Sumber motivasi pertama dapat kita baca dalam Al Quran. Allah SWT berfirman dalam Surat Ali Imron ayat 133:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”

Kata bersegera dalam ayat di atas mengisyaratkan sebuah perintah untuk tidak berlambat-lambat. Besegera berarti bergerak dengan cepat dan tepat. Bersegera bukan terburu-bur, namun sebuah gerak penuh perhitungan. Orang yang bersegera tujuannya hanyalah untuk mendapatkan ampunan dan ganjaran terbesar yakni surga.

Kemudian kita juga temukan ayat lain yang mengisyaratkan perinath bersemangat dalam beramal. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Jumuah ayat 10:

”Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

Perintah Allah kepada hambanya saat shalat, ibadah vertikal usai ditunaikan adalah bertebaran di muka bumi. Bertebaran di muka bumi bermakna luas yakni beramal dengan jangkauan luas di berbagai tempat dan kondisi. Allah SWT memerintahkan hamba-Nya menyebar, tidak terpaku pada satu tempat dan lingkungan. DIA menyuruh kita memperluas komunikasi, jaringan, usaha dan pengaruh ke seluruh penjuru karena kita dimanahkan sebagai khalifah-Nya. Bertebaran juga berarti kita disuruh untuk belajar dari daerah lain, kreatif dalam bekerja dan mendapatkan pengalaman-pengalaman baru yang konstruktif.

Masih banyak lagi Ayat-ayat Allah dalam Kitab-Nya yang menyebutkan keutamaan dari bersemangat menjemput karunia-Nya.

Rasulullah SAW sendiri juga membakar gelora umatnya untuk bekerja secara sempurna untuk menggapai kesuksesan dunia dan kebahagiaan akhirat. Rasulullah SAW bersabda

”Bekerjalah untuk kepentingan duniamu seolah-olah kamu hidup selama-lamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah kamu mati esok pagi.”

Bersemangat dalam bekrja merupakan etos kerja orang-orang yang beriman. Semangat lahir dari keimanan yang kuat. Orang yang bersemangat akan senantiasa mengingat bahwa kekuatan itu hanyalah bersumber dari Allah. Tak peduli fisik yang kecil, lemah bahkan cacat, bila Allah menghidupkan cahaya iman dalam diri kita, maka gelora semangat beramal akan terus berkobar. Orang yang bersemangat beramal untuk Allah akan diberikan kemudahan oleh Allah. Sebuah keniscayaan bahwa Allah tidak akan membiarkan orang yang menolong-Nya (agama-Nya) tertimpa kesulitan, kesedihan dan penderitaan.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al Hajj ayat 140:

“Dan sungguh Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Maha Perkasa.” (Q.s. al-Hajj: 40).

Seperti yang difirmankan Allah dalam Surat Ali Imran ayat 133, orang-orang beriman selalu bersemangat beramal juga dikarenakan ia dengan mudah membayangkan kenikmatan surga dan kekal. Dengan pamrih amal berupa surga, maka motivasi beramal tak akan mudah pudar sebab yang dibayangkan adalah ganjaran yang terbaik. Setiap orang yang bekerja karena akan mendapat upah, gaji, penghargaan yang sangat mahal dan berharga pastilah bekerja dengan semangat. Lalu, adakah upah atau penghargaan terbesar yang melebihi surga, yang daerahnya seluas langit dan bumi, didalamnya mengalir sungai-sungai dan tumbuh pepohonan yang tak terbayangkan indahnya.

Semangat yang Lemah

Selain kita juga mengingat hal-hal yang dapat membangkitkan semangat beramal, kita juga perlu mewaspadai segala sesuatu yang membuat kita lemah semangat. Bila orang yang imannya kuat akan selalu nampak bersemangat dan memancarkan cahaya semangatnya pada orang lain, sebaliknya orang yang tidak bersemangat pastilah dikarenakan masalah pada imannya. Orang yang amalnya tidak sungguh-sungguh akan mengalami kelesuan dalam menggapai karunia dan beribadah kepada Allah. Orang yang tidak bersemangat pastilah mempunyai penyakit dalam hatinya sehingga fisik, pikiran dan jiwanya tidak bisa digerakkan untuk beramal secara sempurna. Allah SW berfirman :

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Q.s. al-Baqarah: 10).

Orang yang hatinya berpenyakit selalu dirundung oleh keragu-raguan akan pertolongan Allah. Mereka, orang-orang yang hatinya berpenyakit akan senantiasa sulit bergerak untuk menolong agama Allah karena motivasi amalnya bukanlah dalam rangka mendapatkan surga melainkan hanya untuk kepentingan materi dan duniawai. Allah menegaskan fenomena ini dalam Surat An-Nisa ayat 143 :

“Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir).” (Q.s. an-Nisa’: 143).

Orang yang berpenyakit hatinya, ragu-ragu dengan balasan terbesar dari Allah dan tidak yakin akan pertolongan Allah juga akan cenderung jadi manusia yang lambat. Ia selalu ada di belakang, tidak punya inisiatif dan ingin yang aman-aman saja. Orang yang ragu-ragu dalam keimannya tidak ingin mengambil resiko dalam berbuat dan mencari keuntungan dimana pun ia berada, Ketika berada dalam lingkungan orang beriman, ia ingin mendapat keuntungan disini. Namun saat lingkungan orang yang beriman menghalangi cita-citanya, ia beralih ke lingkungan orang kafir. Nauzubillah, inilah orang-orang yang Allah gelari dengan orang munafik. Orang yang samar keimannya dan tidak jelas antara iman dan kafir. Allah SWT menegaskan fenomena ini dalam Surat An-Nisa ayat 72-73

”Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata: ‘Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka. Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia: ‘Andaikan, kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula)’.” (Q.s. an-Nisa’: 72-3).

Dengan memahami sebab musabab yang menjadi pemicu semangat kita dalam menggapai karunia Allah, maka kita akan memiliki bekal untuk terus meningkatkan kualitas amal kita. Demikian juga, kita perlu memahami dan mewaspadai datangnya penyakit iman sehingga semangat kita menurun baik dalam rangka menggapai cita-cita di dunia maupun untuk mempersiapkan kita masuk ke surga Allah SWT. Semoga Allah senantiasa memberi taufik dan hidayah-Nya kepada kita agar tetap kokoh dan bersemangat dalam beribadah. Dan kita memohon Ampun pada Allah agar terhindar dari penyakit munafik yang akan meruntuhkan semangat kita beramal.

Kiat agar Tetap bersemangat

Hanya dengan taqwa kita bisa memelihara semangat beramal kebaikan. Taqwa juga akan menjaga nilai keimanan sehingga semangat kita tidak melemah. Keimanan bahwa yang memberi kekuatan hakikatnya Allah semata. Keimanan kita bahwa pengadilan Allah sungguh tidak lama lagi akan kita jalani. Keimanan bahwa hidup di dunia ini begitu sangat cepatnya. Keimanan bahwa surga begitu nyata dan kekal dibandingkan dengan kesenangan dunia. Juga keimanan bahwa neraka itu tidak sanggup kita hadapi bila kita sudah merasakannya.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menguakan keimanan kita dalam rangka memelihara semangat beramal antara lain:

  1. Memahami dan menyadari bahwa sumber kekuatan berasal dari Allah dan meminta tolonglah pada-Nya
  2. Menyadari kematian semakin dekat dan persiapkan dengan baik
  3. Merenungkan betapa besarnya ganjaran Allah yaitu surga yang indah dan abadi.
  4. Mengingat betapa neraka sangat dahsyat deritanya meski hanya sebentar.
  5. Berinteraksi secara akrab dengan Al Quran karena ia adalah sumber inspirasi dan motivasi bagi kita.

Semoga Allah merahmati serta memberi taufik dan hidayahnya kepada kita.

Related For Renungan Jum’at ini