Menu

Mengukur Kualitas Puasa Kita

07/06/2016 | CORETAN, INSPIRATIF, MOTIVASI

ramadhan

Ramadhan datang lagi, bulan yang kita tunggu-tunggu kembali menyapa kita, kini hadir dengan nuansa yang mungkin tak jauh berbeda dengan  tahun-tahun sebelumnya. Hari-hari pertama masjid-masjid terlihat penuh dikunjungi para jamaah untuk melaksanakan beragam aktivitas malam. Sholat tarawih seolah menjadi sebuah kewajiban yang harus diikuti oleh para warga muslim. Lihatlah, hari pertama, kedua, ketiga hingga sepuluh hari diminggu-minggu awal. Kita berlomba seolah tidak ingin kalah dengan yang lainnya.

Namun pertanyaannya, sejauh mana kualitas puasa kita dari tahun ketahun? Sudahkah kita sadar bahwa euforia Ramadhan terkadang hanya menyapa diminggu-minggu awal. Tidak sedikit masjid yang menjadi sepi ketika sudah masuk pada hitungan pertengahan bulan. Kemanakah mereka?, ini menjadi seperti normal karena terjadi dimana-mana. Beberapa waktu lalu dalam sebuah khutbah jum’at sang khatib mengatakan bahwa kita berpuasa ramadhan setiap tahun dam kita semua merupakan alumni  Madrasah Ramadhan tahun sebelumnya namun mengapa bagi sebagian besar dari kita puasa ramadhan tidak berpengaruh atau berbekas di luar Ramadhan. Bahkan belum sampai ramadhan usai, kita kadang menyerah, terpengaruh dengan yang lain menuju ketempat yang lebih ramai, kemana lagi kalau bukan ke pasar, mall dan tempat asyik lain untuk menyiapkan datangnya hari raya.

Smua berawal dari niat, mumpun ini masih awal, ayo kita benahi niat kita. Sesungguhnya niat inilah yang akan mempengaruhi kualitas ibadah kita di bulan Ramadhan ini. Kalau tidak ada niat dan keinginan yang kuat untuk menjadi lebih baik, maka mengerjakan ibadah hanya sekedar memenuhi kewajiban dan mengikuti lingkungan sekelilingnya. Kalau yang lain ikut ramai-ramai ke masjid, tentu kita juga harus ikutan ke masjid dong. Nah inilah niatan yang keliru.

Kalau niatnya saja sudah salah, tentu kita tidak bisa meningkatkan kualitas puasa. Seperti yang kita tahu puasa dan juga ibadah-ibadah yang lainnya mempunyai beberapa tingkatan dan kebanyakan orang berpuasa pada tingkatan awam yang puasanya tidak memberi bekas pada kehidupan atau ibadahnya yang lain. Bila seseorang ingin meningkatkan kualitas ibadah puasanya ia tidak tahu caranya. Jawaban ringkas dan sederhana dari masalah tersebut adalah karena kebanyakan orang berpuasa pada tingkatan “awam”.

Peningkatan kualitas ibadah identik dengan peningkatan iman dan taqwa. Orang tidak tahu atau tidak diajarkan bagaimana meningkatkan iman dan taqwa. Setiap khutbah jum’at khatib mengajak jamaah untuk meningkatkan iman dan taqwa. Iman dan taqwa bertingkat-tingkat. Tidak diajarkan secara kongkrit bagaimana meningkatkannya. Hanya diberitahu bahwa untuk bertaqwa adalah dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Kalimat ini tentu sangat umum. Ilmu Islam sangatlah luas dan dalam. Ilmu yang sedemikian tingginya ini [Islam sangat tinggi, tidak ada yang mengalahkannya.

Kalau di sekolah ada kelas satu kelas dua dan seterusnya. Untuk bisa naik kelas perintahnya adalah supaya rajin belajar. Perintah rajin belajar adalah umum tetapi di Sekolah sudah ada kurikulumnya jadi sang murid sudah tahu bahan pelajarannya sehingga tidak semua hal dipelajari. Ada ada kurikulum, ada guru (pembimbing), ada target pencapaian/prestasi, ada evaluasi, ada ujian. Dalam jangka waktu tertentu sang murid sudah bertambah ilmu pengetahuannya, baik yang dirasakan oleh si murid itu sendiri maupun menurut penilaian pihak lain.

Nah kalau ibadah puasa dan ibadah yang lain di bulan Ramadhan ini kita lakukan karena hanya ingin dinilai bagus dihadapan orang lain, keluarga tetangga dan atasan kita biar terlihat lebih alim, wah ini salah besar. Lagi-lagi ayo perbaiki niat,….bukankah puasa itu untuk Allah ? dan ibadah itu ditujukan untuk mencari ridho-Nya? mengapa masih mengharapkan orang lain agar mau menghormati rasa lapar kita? Apakah kita beribadah hanya untuk dihormati orang lain? Tidakkah itu termasuk dalam perbuatan golongan orang riya?

Apakah  kita bisa merenungi seberapa berkualitas puasa kita, karena hanya Tuhan dan kita saja yang mengetahui kebenaran  kita berpuasa atau tidak.  Kita jugalah yang bisa menilai apakah tindakan kita di siang hari mengurangi pahala atau membatalkan ibadah kalian?

Mungkin saja, saya atau sebagian besar dari kita hanya lulus dalam ujian menahan lapar nya saja, lulus untuk mampu melewati jarak antara imsak dan maghrib tanpa sesuap nasi dan setetes air. Akan tetapi luluskah kita dalam menahan hawa nafsu? amarah? keinginan bergunjing? mengambil hak orang lain?. Belum lagi, makna ibadah kita menjadi semakin tidak bernilai manakala kita enggan melengkapinya dengan ibadah sunnah, bersedekah dan lain-lain.

Mari bersama-sama merenungi akankah Ramadhan ini akan menjadi kali terakhir kita mengecapnya, dan mampukah kita menjadikannya lebih baik lagi dari segi amalan dan perbuatan kita, seperti yang benar-benar diharapkan Allah untukNya. Ayo tingkatkan kualitas puasa kita, agar kita mampu lulus dalam madrasah Ramadhan tahun ini dengan nilai yang sempurna, menjadi bekal bagi kita untuk mendapat gelar taqwa seperti yang dijanjiakan Allah.

 

 

Related For Mengukur Kualitas Puasa Kita