Menu

Belajar dari Pak Nyoto

f2b7e4dc-bab5-46e9-a6a2-6ba7124c4112

Namanya Sunyoto, singkat dan sederhana tanpa ada embel-embel apapun. Entah mengapa kali ini  rasanya saya perlu  menulis tentang sosok satu ini. Sunyoto, salah satu rekan sekaligus sahabat sudah dianggap seperti saudara yang selalu memberi banyak pembelajaran dalam setiap perjalanan saya. Pak Nyoto, begitu biasa saya panggil namanya. Seperti namanya, makna Nyoto dalam bahasa Indonesia adalah Nyata, artinya bukan angan-angan, setidaknya begitulah saya pandang beliau sebagai rekan berjuang di pesantren ini. Pak Nyoto sehari-hari berprofesi mejadi driver, sekaligus koordinator dalam urusan permobilan. Maka tidak heran jika kesehariannya selalu disibukan dengan inventaris kendaraan Dinas pondok. Mulai dalam pelayanan, perawatan, perbaikan dan segala hal tentang sarana angkutan dijalani sebagai amanah yang cukup baik.

Saya tidak ingin mengulas bagaimana profesi dia, membersamai dia dalam setiap kesempatan menjadi satu hal yang menarik. Satu diantaranya adalah semangat belajarnya yang cukup tinggi, meskipun “hanya” sekedar Supir di pesantren kami, tapi pengetahuan dan daya berfikir pak Nyoto tidak mau kalah dengan guru dan karyawan lain disini. Setidaknya ini yang saya lihat dan rasakan semenjak perkenalan saya beberapa tahun lalu.

Pak Nyoto, sosok masih muda, badanya kurus seperti saya, bukan karena kurang makan, namun enerjik dan lincah dalam bekerja, dia memberi bukti mengabdi denga keikhlasan cukup tinggi, tanpa mengenal lelah siap menerima perintah dan permintaan jasa antar dari pimpinan, kemanapun pimpinan minta dia siap menghantar dengan semangat. Dalam setiap perjalanan bersama saya, beberapa kali kami berdiskusi tentang banyak hal. Mulai dari hal-hal kecil, urusan pesantren, cerita sejarah masa lalu, hingga permasalahan lainya.  Dari sini saya banyak belajar tentang sejuta makna keikhlasan yang sering beliau sampaikan. Tidak ringan menjadi pribadi pak Nyoto, bekerja tanpa mengenal batasan waktu. Baginya, bekerja adalah pengabdian dan ibadah kepada Allah. Filosofi “Lakoni Wae” pernah saya baca dari status-statusnya di media sosial.

Berbicara status di media sosial, Pak Nyoto adalah sosok pembelajar yang saat ini mulai ketularan hobby menulis, alhamdulillah virus positif ini berhasil saya tularkan kepadanya. Saya selalu berikan semangat untuk berani menulis, “jangan fikirkan apa yang orang lain katakan tentang dirimu, meski  hanya seorang supir, kamu harus buktikan”,  ini yang saya pernah katakan. Dan ada satu semangat pembuktian yang harus saya wujudkan dan kelak akan saya usahakan membimbingnya untuk melahirkan sebuah karya.

Dampaknya cukup positif, dia mulai rajin belajar menulis, dari status-statusnya di Facebook yang saya baca, perkembangan daya imajinasi dan bobot materi tulisannya sudah mulai berkembang. Dan dengan penuh optimis saya yakinkan kepadanya untuk terus menulis. Belajar dari pak Nyoto, tentang semangat yang luar biasa dimilikinya, dan kebesaran hati untuk terus belajar memacu potensinya. Tentu tidak banyak orang seperti beliau,  dan yang paling penting bahwa pak Nyoto ini sedang berproses mengembangkan bakat, mengasah kemampuan yang bisa dilakukan oleh siapapun tanpa peduli latar belakang status, pendidikan dan pekerjaan.

Banyak orang yang enggan untuk mengembangkan potensi dirinya, padahal setiap orang punya kekuatan dasyat yang bisa dimaksimalkan. Sebagian dari kita mungkin sudah terlanjut nyaman di zona yang aman. Sehingga untuk menerima sebuah perubahan sulit dilakukan. Bahkan masukan, kritik dan saran dianggap sebuah ancaman yang menyudutkan.  Tidak sedikit dari kita mungkin kurang suka dengan kritik, lebih-lebih disampaikan melalui tulisan halus berbalut nasehat. Nah, kedewasaan kita sebenarnya diuji dari sini. Beberapa kali saya berikan semangat kepada pak Nyoto, menulis adalah sebuah proses meninggalkan jejak-jejak manfaat yang abadi, maka jangan takut untuk menulis.

Tentang pak Nyoto yang mulai doyan menulis ini saya berharap bisa memicu orang lain juga berani mengekspresikan rasa melalui tulisan.  Menulis bukan sesuatu yang sulit, saya pernah katakan kepada pak Nyoto disuatu kesempatan bahwa kunci bisa menulis adalah “Mulai Menulis”, tidak ada kata lain. Karena menulis itu tidak ada teorinya, semua orang bisa menulis. Saya sejak SD sudah bisa menulis, bahkan anak TK jaman sekarang juga sudah banyak yang bisa menulis. Tetap saja setiap tulisan kita akan dinilai dari berbagai sudut pandang yang berbeda-beda dari para pembaca. Tulisan yang kita maksudkan untuk memberi nasehat, dengan balutan diksi yang tepat terkadang masih sulit dicerna. Bahkan bersiaplah dengan resiko tulisan ini akan menjadikan prasangka dan kebencian dari pembaca. Saya faham betul bagaimana para tokoh pendiri bangsa ini mengekspresikan keinginan kuat untuk merdeka melalui tulisan-tulisan mereka di media luar negeri. Ulama sekelas Buya Hamka juga sering menulis kritik untuk pemerintah kala itu. Dan resikonya beliau harus rela masuk tahanan karena dianggap melawan pemerintah. Namun apa yang beliau lakukan saat di dalam penjara, beliau terus saja menulis, dan kini kita bisa menikmati sebuah maha karya dasyat dari beliau berupa Kitab Tafsir Al Azhar yang sampai kini terus dikaji banyak orang.

Kembali tentang sosok pak Nyoto, saya kira beliau inilah salah satu dari guru kehidupan saya. Nyata, seperti namanya, bukan kamuflase apalagi sosok abal-abal. Supir tangguh yang berjuang ikhlas, dan memiliki jiwa pembelajar cukup tinggi. Bukan hanya itu, dari sisi religius juga beliau cukup baik pemahaman agamanya. Semangatnya dalam membela Islam pernah dibuktikan saat membersamai saya mengikuti aksi 212 di Jakarta beberapa waktu lalu.  Di sela kesibukan kami masing-masing, seminggu sekali saya bersyukur bisa bertemu  dalam satu sesi pembelajaran dengannya. Terimakasih pak Nyoto, setidaknya melalui tulisan ini saya akan berusaha mengingatkan diri saya sendiri untuk terus belajar, tidak pernah berhenti dan merasa puas.  Saya berjanji memberi bimbingan, insyaAllah akan segera terbit sebuah maha karya, buku yang terbit tahun ini buku tentang catatan seorang supir. Dan itu nyata hasil karya pak Nyoto, Semoga !

Share to Media

Related For Belajar dari Pak Nyoto