Menu

Cara Dahsyat Menjadi Guru Hebat

24/11/2019 | INSPIRATIF, MOTIVASI

impor-guru

Part I : Mengubah Paradigma

 

Salam dahsyat guru hebat, mengawali bagian pertama ini izinkan saya mengajak  kita semua untuk ngobrol tentang paradigma. Karena saya sendiri saat ini terkadang masih memiliki paradigma yang keliru tentang keberadaan kita sebagai seorang guru.  Sebelum terlampau jauh kita bicara tentang paradigma, saya ajak anda untuk membayangkan suasana kelas kita saat mengajar didepan murid-siswa kita.

Mari kita bayangkan kelas atau tempat dimana Anda mengajar,  kelas dan tempat para siswa belajar. Dengarkan riuh gemuruh suasana anak-anak begitu antusias dan tertarik memperhatikan materi yang Anda sampaikan. Perhatikan juga jari-jari kecil mereka yang teracung, dengan wajah penuh semangat, nampak antusias ingin tahu lebih jelas tentang materi yang anda ajarkan.  Anda bisa melihat di sekeliling kelas, betapa seluruh siswa seakan terhipnotis untuk mengikuti suasana pembelajaran dan siap melaju dengan penjelajahan ilmu bersama anda. Sebuah energi maha dahsyat yang menjadikan kelas itu begitu singkat, tanpa terasa bel pergantian pelajaran yang menjadikan mereka nampak sedih karena berpisah dari pelajaran anda hari itu.

Gambaran yang baru saja kita bayangkan mungkin sudah sesuai dengan suasana mengajar anda. Atau mungkin malah baru sebatas gambaran dalam angan-angan, alias impian kita sebagai seorang guru. Bisa jadi suasana sebaliknya yang terjadi, menjadikan kita enggan untuk membayangkan suasana kelas yang dianggap membosankan. Tidak ada energi semangat yang menyebar diantara para siswa. Terlepas dari seluruh kelebihan dan kekurangan kita saat ini, sudah saatnya paradigma kita dalam mengajar perlu menjadi landasan awal bagi kita.

Apa yang kita pikirkan menjadi cerminan paradigma kita,  sehingga sangat mempengaruhi cara kita memandang profesi kita sebagai seorang pendidik. Guru adalah profesi yang paling terhormat, profesi paling mulia. Kita bayangkan saja semua pejabat di negeri ini, semua ahli, dokter, peneliti, arsitek, hakim, jaksa, para menteri bahkan presiden sekalipun semua dihasilkan oleh para guru dimasa mereka sekolah.  Maka tidak heran ketika saya menganggap langkah awal bagi seorang guru untuk menuju sukses adalah membangun paradigma. Menata kembali pola pikir dan menumbuhkan rasa optimis yang tinggi dalam diri kita.

Membangun paradigma dari dasar fondasi bisa kita awali dengan menghadirkan nurani seorang pendidik yang siap dan rela mengorbankan diri untuk berbagi ilmu kepada anak-anak didik kita. Bangunlah sebuah pola pikir yang jernih bahwa pondasi yang akan kita bangun adalah seorang guru yang harus rela berbagi, berbagi kebahagiaan, berbagi pengetahuan, berbagi suka dan duka,  berbagi suasana hati dengan para siswa-siswa kita.

Hiasi sebuah kesadaran dalam diri kita, bahwa kita diberi sebuah anugerah oleh Allah sebuah profesi yang mulia. Profesi penentu masa depan yang kelak akan menghantarkan kita ke surga, atau bahkan malah justru menjerumuskan kita dalam neraka. Tentu saja ini bukan untuk menakut-nakuti kita, tapi bisa jadi dengan kesalahan dasar paradigma yang kita bangun, justru profesi yang kita miliki ini justru menjadikan kita orang yang terhina.

Fondasi awal adalah kesadaran dalam diri kita bahwa guru dikatakan berhati mulia itu manakala mampu mencurahkan hal yang dimiliki dengan kerelaan dan keikhlasan yang tinggi untuk berbagi kepada para siswa. Ini artinya, apa pun yang kita jalani semata-mata adalah dengan niatan berbagi, sudah pasti jika berbagi kita dituntut untuk memiliki apa yang akan kita bagikan. Dengan kesadaran inilah dengan sendirinya hadir dalam diri satu kehausan akan pengetahuan baru untuk kita bagikan kepada anak didik kita, jadilah bukan hanya sekedar guru yang bisa mengajar, tapi juga guru yang mampu belajar, diistilahkan dengan guru pembelajar.

Guru tidak boleh terjebak pada rutinitas harian belaka, tetapi selalu mengembangkan dan memberdayakan diri secara terus menerus untuk meningkatkan kualifikasi dan kompetensinya, baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan, seminar, lokakarya, dan kegiatan sejenisnya. Guru jangan terjebak pada aktivitas datang, mengajar, pulang, begitu berulang-ulang sehingga lupa mengembangkan potensi diri secara maksimal.

Guru juga harus mampu menyusun dan melaksanakan strategi dan model pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, ini dilakukan agar dapat menggairahkan motivasi belajar peserta didik. Selain itu seorang guru juga harus menguasai berbagai macam strategi dan pendekatan serta model pembelajaran sehingga proses belajar-mengajar berlangsung dalam suasana yang kondusif dan menyenangkan. Semestinya dominasi guru dalam pembelajaran, dikurangi sehingga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk lebih berani, mandiri, dan kreatif dalam proses belajar-mengajar. Guru yang hebat adalah guru yang mempunyai visi ke depan dan mampu membaca tantangan zaman sehingga siap menghadapi perubahan dunia yang tak menentu yang membutuhkan kecakapan dan kesiapan yang baik

Sahabat guru hebat, mengubah paradigma ini penting bagi kita, saatnya kita ubah pola pikir atau biasa kita sebut paradigma, paradigma atau pola pikir adalah jumlah total dari sesuatu yang diyakini, nilai, identitas, harapan, sikap, kebiasaan, keputusan, pendapat, dan pola-pola berpikir kita, tentang diri kita, orang lain, dan bagaimana dalam kehidupan tempat dia bekerja. Ini adalah merupakan saringan yang sering kita tafsirkan apa yang kita lihat dan apa yang kita alami. Pola pikir kita dapat membentuk kehidupan kita dan menarik kepada diri kita hasil merupakan refleksi dari pola pikir kita. Apa yang kita yakini dan percayai akan terjadi, itu benar-benar terjadi.

Pikiran merupakan magnet yang sangat kuat. Apa pun yang dihasilkan oleh pola pikir kita adalah apa yang kita tarik, baik kita sadari atau tidak.  Jika kita memiliki keyakinan kuat bahwa, “Kehidupan ini sangat keras, dan aku harus berjuang hanya sekadar untuk hidup sederhana,” misalkan, Kita tidak perlu sadari akan keyakinan itu untuk mengalami perjuangan dalam hidup kita. Pada kenyataannya, kita ingin melihat apa yang terjadi dengan pola pikir kita sebenarnya, kita hanya boleh melihat hidup kita dan hasil kita. Hasil yang kita dapatkan sesuai dengan apa yang kita yakini.

Menjadi guru sama halnya dengan menjadi pengawal anak-anak kita menuju gerbang kesuksesan. Mengantar mereka menuju puncak kebahagiaan, dan bersama dengan kita nantinya menuju cita-cita akhir yaitu menikmati indahnya surga yang Allah janjikan. Sukses bukan hanya sukses dunia, namun juga sukses di akhirat kelak. Inilah cita-cita yang harus dibangun menjadi fondasi awal paradigma berpikir kita.

Maka seberapa penting tujuan kita menjadi seorang guru, ini juga perlu direncanakan dalam hidup kita. Tujuan hidup inilah yang akan mengarahkan langkah kaki kita. Tanpa tujuan hidup kita akan menjadi guru yang tidak jelas, terombang-ambing, gagap dalam menentukan arah dan dipastikan menjadi guru yang mencapai sasaran sebagai guru hebat.

Mulai sekarang rubahlah paradigma kita, milikilah tujuan yang lebih jelas dari profesi yang kita jalani ini, bangun sebuah karakter pemenang dalam diri kita. Dengan paradigma berpikir yang jelas, akan tumbuh sebuah semangat serta tanggung jawab serta konsistensi dalam menjalankan amanah mulia ini.

Sahabat guru hebat, saya ingin mengingatkan sebuah falsafah guru seperti yang ditulis KH Hajar Dewantara adalah “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”, yang mempunyai arti “ di depan menjadi teladan, di tengah membangun semangat, dari belakang mendukung”. Inilah sifat yang harus dimiliki setiap guru, begitu mulia dan tentunya akan menjadi teladan siswanya. Tapi pertanyaannya adalah sudahkah kita sebagai guru menjadi teladan bagi mereka ?, yang bisa menjawab tentunya hanya diri kita masing-masing.

Pikiran kita pada saat ini lebih terfokus pada bagaimana meningkatkan kesejahteraan guru, sehingga segala upaya dilakukan untuk memenuhi tujuan ini. Dan salah satunya adalah program sertifikasi guru dan dosen yang dilaksanakan pemerintah dan tentunya ini positif. Sebab selain penambahan finansial bagi guru yang telah dinyatakan lulus dan dapat sertifikat pendidik, mereka juga mendapatkan ilmu dari pelatihan yang diselenggarakan pemerintah.

Paradigma pertama yang harus di rubah adalah anggapan bahwa guru adalah sumber utama belajar, apalagi kalau anggapan ini datang dari guru itu sendiri, sehingga menganggap dirinya paling super. Ketahuilah wahai para guru, pada era sekarang ini di manadunia sangat mengglobal diakibatkan hadirnya internet, ilmu bisa dicari dengan mudah tidak dibatasi waktu dan ruang. Sementara masih ada guru kita yang tidak bisa menggunakan internet ini, sedangkan bagi para siswa hal ini bukan hal yang luar biasa. Kita bisa bayangkan apa yang terjadi, jika siswa sudah menguasai internet, sedangkan gurunya belum. Maka apabila siswa lebih pintar dari pada guru pada saat sekarang ini adalah sangat wajar.

Oleh sebab itu pola pikir kita harus kita rubah” dari guru sebagai sumber belajar menjadi guru adalah fasilitator, motivator dan supervisor”, bagi siswa dalam mendapatkan ilmu. Perubahan mindset ini, tentu saja, akan berpengaruh pada fungsi dan peran guru yang tidak lagi menjadi sentral atau segala-galanya bagi para muridnya. Kini, guru harus lebih berperan sebagai fasilitator belajar bagi siswanya, agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat kemampuan dan minatnya masing-masing.

Guru harus lebih berfungsi sebagai motivator belajar bagi para siswanya, terutama mengenai bagaimana agar siswa dapat sukses belajar dan siap dalam menghadapi dunia riil di masyarakat usai lulus sekolah nanti. Sebagai supervisor belajar,  guru pun harus lebih mengarahkan siswanya agar belajar untuk membiasakan diri dalam memecahkan masalah dirinya, dan beragam masalah yang terjadi di masyarakat atau masalah yang akan dihadapi oleh mereka kelak.

Belajar adalah proses berpikir, blajar berpikir menekankan kepada proses mencari dan menemukan pengetahuan melalui interaksi antara individu dengan lingkungan. Dalam pembelajaran berpikir proses pendidikan di sekolah tidak hanya menekankan kepada akumulasi pengetahuan materi pelajaran, tetapi yang diutamakan adalah kemampuan siswa untuk memperoleh pengetahuannya sendiri.

Asumsi yang mendasari pembelajaran berpikir adalah bahwa pengetahuan itu tidak datang dari luar, akan tetapi dibentuk oleh individu itu sendiri dalam struktur kognitif yang dimilikinya. Atas dasar asumsi itulah pembelajaran berpikir memandang bahwa mengajar itu bukanlah memindahkan pengetahuan dari guru pada siswa, melainkan suatu aktivitas yang memungkinkan siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya.

Mengajar dalam pembelajaran berpikir adalah berpartisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi. Guru juga sebagai pembimbing terbaik bagi akhlak para siswanya, pola pikir penting yang harus terus dibangun. Ditangan kita tanggungjawab mendampingi siswa agar terus memiliki karakter dan akhlak yang baik. Memiliki bekal keimanan yang kuat, dan menjadi pribadi muslim yang bertaqwa.

Share to Media

Related For Cara Dahsyat Menjadi Guru Hebat