Menu

Esensi Qurban dan Jalan Mendekat Kepada Allah

22/08/2018 | INSPIRATIF, MOTIVASI, RENUNGAN

qurban 1

Alhamdulillah tahun ini kita bersama-sama kembali diberi kesempatan melewati perayaan Idul Adha, hari raya Qurban. Qurban yang secara bahasa berarti dekat. Prosesi ibadah qurban dilakukan umat islam dengan melaksanakan  penyembelihan  hewan kurban pada saat hari raya Idul Adha dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan demikian qurban dapat dipahami sebagai media untuk mengantarkan seorang hamba agar lebih dekat kepada Tuhannya.

Pertanyaannya,  apa relevansi  mendekatkan  diri kepada Tuhan dengan penyembelihan hewan kurban yang sudah dilakukan? Apakah dengan sudah melaksanakan kurban seorang hamba telah dikatakan dekat dengan Tuhannya? Untuk menjawab pertanyaan diatas, kita perlu menelusuri sejarah disyariatkannya ibadah kurban.

Perintah untuk berkurban bahkan telah dimulai sejak awal peradaban manusia. Dua putra Adam yakni Qobil dan Habil diperintahkan untuk mempersembahkan hasil pertanian dan peternakan mereka  sebagai bentuk pengabdian dan rasa syukur. Namun perintah itu disikapi berbeda, Habil mempersembahkan yang terbaik dari hewan ternaknya sementara Qobil memberikan hasil pertaniannya yang sudah rusak dan jelek. Maka Allah pun hanya menerima persembahan Habil dan menolak persembahan dari yang lainnya. (QS. Al-Maidah : 27)

Sejarah kurban menjadi fenomenal ketika Nabi Ibrahim mendapat perintah langsung dari Allah untuk menyembelih putranya Ismail. Perintah yang tak lazim ini sempat membuat ia apakah benar datang dari Allah atau hanya sekedar mimpi belaka. Perintah inipun akhirnya dilaksanakan setelah mendapat kepastian kebenarannya dari Allah SWT. Karena kesungguhan dan keikhlasan  keduanya melaksanakan perintah, lalu Allah mengganti sembelihan itu dengan seekor domba besar (QS. As shaffaat : 102-107).

Esensi Kurban

Hewan kurban merupakan simbol harta kekayaan yang dicintai. Oleh  sebab itu di balik perintah berkurban tersimpan makna bahwa untuk dekat dengan  Allah SWT seseorang harus rela berkorban dengan menghadirkan yang terbaik dari apa yang dimilikinya.  Hal inilah yang  telah ditunjukkan oleh Habil sehingga persembahan kurbannya dapat diterima. Demikikan juga terhadap Ibrahim, demi menjalankan perintah, anak semata wayang yang paling disayangi ia relakan untuk disembelih. Padahal untuk kelahiran putra satu satunya itu Ibrahim telah sangat lama  menunggu dan merindukan kehadirannya.

Ismail lahir setelah Ibrahim berumur seratus dua puluh tahun sementara istrinya Siti Hajar  berusia sembilan puluh sembilan tahun. Kelahiran Ismail pun sempat membuat keduanya merasa kaget dan heran, setengah tak percaya apa mungkin mereka akan mendapatkan keturunan (QS. Hud:72). Ismail sendiri berasal dari bahasa Ibrani yang seakar dengan bahasa arab dari kata sami’a yang berarti mendengar. Yakni anak yang dilahirkan setelah Tuhan mendengar doa panjang yang dipanjatkan Ibrahim.

Ibadah kurban sama seperti ibadah haji bersifat simbolik. Didalamnya terkandung beberapa makna spiritual yang amat dalam. Pertama, ungkapan rasa syukur kepada Tuhan dengan mempersembahkan harta yang terbaik. Melalui ibadah kurban seseorang berusaha mencari pendekatan dengan menyambung hubungan vertikal yang bersifat transendental kepada sang pencipta. Kedua, sebagai ungkapan cinta kasih dan rasa simpatik kepada kaum lemah dan papa. Anjuran untuk membagi-bagikan daging kurban kepada fakir miskin  sebagai manifestasi bentuk kepedulian sosial. Dengan berkurban seseorang telah membangun hubungan horisontal yang baik kepada sesama manusia. Ketiga, simbol dari kesediaan untuk melawan dan mengenyahkan sesuatu yang dapat menjauhkan diri dari jalan Allah.

Harta, kekayaan, kedudukan dan pangkat seringkali membuat orang silau dan cenderung materialistik. Gaya kehidupan semacam ini dapat membawa orang kepada sikap individualistik yang tak peka terhadap nasib sesama. Maka melalui ibadah kurban seseorang telah berkomitmen untuk meraih ridha Allah dan telah membuktikan dirinya tidak terpedaya oleh godaan cinta harta.

Kurban bukanlah untuk menjadikan hewan sembelihan itu sebagai upacara persembahan yang dihidangkan pada altar pemujaan atau diletakkan dibawah pohon besar sebagai sesajen, melainkan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur yang mendalam untuk  kemudian dagingnya dapat dinikmati oleh orang yang berkurban itu sendiri maupun untuk orang lain yang membutuhkan.

Ibadah ritual yang simbolis ini disamping menyiratkan makna spritual untuk senantiasa menjaga  hubungan vertikal antara hamba dengan Tuhannya, juga mengisyaratkan perlunya membangun hubungan horisontal antar sesama manusia. Dengan demikian anjuran untuk membagika daging kurban kepada orang lain dapat dimafhumkan sebagai anjuran untuk membangun relasi sosial dengan saling berbagi agar tercipta harmonisasi kehidupan. Selaras dengan pemahaman ini, Allah telah menegaskan bahwa bukanlah daging dan darah hewan kurban itu yang sampai kepada Allah, akan tetapi cahaya ketaatan dan ketaqwaan yang terpancarkan melalui ibadah kurban itulah yang membuat seseorang sampai kepada tuhannya. (QS. Alhajj:37).

Sebagai sebuah simbol, perintah kurban haruslah bertransformasi ke ranah kehidupan yang lebih luas. Kurban tidak akan menemui esensinya andaikan hanya dipahami sebagai  ibadah ritual tahunan pada saat menjelang Idul adha saja tanpa menumbuhkan semangat rela berkorban untuk mensyiarkan agama Allah. Sehingga apapun bentuknya sebuah pengorbanan, baik berupa harta, ilmu, pikiran dan tenaga yang dapat memberikan manfaat untuk orang lain asal dilakukan dengan kesungguhan hati dan keikhlasan semata karena Allah dapat mengantarkan seseorang menjadi lebih dekat kepada Tuhannya.

Semua orang bisa berqurban, bukan sekedar ibadah ritual penyembelihan yang rutin dilakukan, namun semangat dan makna yang menjadi pembelajaran harus ikut kita rasakan. Makna pengorbanan harta yang kita miliki dalam rangka meraih gelar ketaqwaan. Bukan seberapa banyak hewan yang kita sembelih, bukan seberapa banyak harta yang sudah kita qurbankan. Tapi sejauh mana nilai-nilai ibadah qurban ini menjadi ruh perjuangan keimanan kita.

Ibadah kurban telah mengajak setiap orang Islam  untuk menunjukkan nilai  pengorbanannya  sebagai wujud pengabdian kepada Tuhan dan kepedulian kepada sesama. Pada dimensi  individual seseorang yang berkurban telah melaksanakan syiar agama, sementara pada dimensi sosial seseorang yang berkurban sesungguhnya telah berusaha membangun solidaritas antar sesama. Disisi lain kurban juga merupakan pembuktian diri untuk tidak terpengaruh oleh faktor kebendaan semata. Apabila  ketiga unsur ini yakni pengabdian, kepedulian sosial dan pembuktian diri dapat teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari maka seorang hamba telah benar- benar dekat dengan Tuhannya.

Dalam Ibadah kurban kita dituntun untuk tidak hanya menjaga ketaatan secara pribadi kepada Allah, namun dituntut untuk menghadirkan kemanfatan diri bagi sesama manusia. Orang yang terbaik diantara kita adalah orang yang paling banyak manfaatnya kepada manusia lain, demikian nabi berkata.

Momentum ibadah Qurban tahun ini bersamaan dengan sebuah ujian yang Allah turunkan kepada saudara kita di Nusa Tenggara Barat, gempa bumi di lombok menjadikan sebuah keprihatinan bersama. Semestinya Qurban yang kita berikan bisa juga dirasakan manfaatnya bagi saudara-saudara kita disana. Mari kita jadikan semangat Qurban ini sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Meneladani ketaqwaan nabi Iberahim, mencontoh kesahlihan nabi Ismail.

Share to Media

Related For Esensi Qurban dan Jalan Mendekat Kepada Allah