Mas Guru itu Provokator lho, ini bunyi sms yang saya terima dari rekan saya sesama pendidik beberapa saat lalu usai saya mengisi pelatihan dan motivasi disebuah sekolah untuk para siswa-siswanya dalam mempersiapkan diri menghadapi Ujian Nasional bulan April mendatang.
Sepintas saya agak risih dengan sms dari teman tersebut, kata “Provokator” menjadi aneh buat saya, apalagi ketika dikatakan bahwa provesi Guru disebut sebagai seorang provokator, maklum saja, bagi sebagian orang kata “provokator” mengandung arti sebagai orang yang dianggap dalang bagi sebuah kerusuhan. Namun ketika kita melihat dari sudut pandang yang lain terkait makna kata tersebut ada benarnya juga.
Dalam setiap komunikasi yang saya lakukan dengan siswa-siswa saya didalam maupun diluar kelas, selalu saja saya sampaikan kata-kata bernada provokasi dan semangat untuk memberi motivasi mereka. Terkadang saya harus bersikap seolah-olah menjadi provokator bagi mereka untuk saling mengalahkan satu sama lain. Hasilnya sebagian dari para siswa memang menjadi lebih termotivasi untuk mencapai nilai yang lebih baik.  Bahkan kata-kata untuk memotivasi diri pernah saya temukan secara tidak sengaja di sebuah coretan buku salah satu siswa saya. Bunyinya begini : 
Saya terenyum ketika menemukan secari kertas yang terselip dibuku pelajaran dan isinya penuh dengan nada motivasi yang tinggi. Yach, dialah salah satu anak akhirnya memiliki motiviasi tinggi untuk bisa menjadi yang terbaik dan tidak mau kalah dengan teman-teman yang lain.  Hasilnya beberapa hari terahir saya sempat melihat kesibukan dirinya untuk benar-benar serius mempersiapkan Ujian Nasional mendatang.
Memang dalam metode pembelajaran di beberapa sekolah saat ini banyak sistem yang diterapkan para pendidik dalam upaya meyampaikan ilmu kepada para siswanya.
Saya lebih cenderung menjadi seorang provokator, bukan hanya pada saat memberikan motivasi bagi mereka, tetapi berupaya agar setiap pembelajaran yang mereka terima merasa penasaran dan akhirnya mereka terprovokasi untuk mencari tau lebih jauh. Disinilah saatnya, ketika mereka berada dalam kepenasaran itu, kita tidak boleh meninggalkan mereka, yang saya lakukan biasanya memberikan tugas-tugas kepada mereka untuk mengobati rasa kepenasaran terkait ilmu yang saya berikan.
Terlepas dari makna yang bisa terkandung dalam ungkapan itu, saya tetap yakin bahwa setiap pendidik di negeri ini bisa menjadi seorang “Provokator”, dalam arti yang positif tentunya. Mengahiri tulisan sederhana ini, saya jadi ingat saat-saat masih jadi mahasiswa dulu, saya sering jadi Provokator buat teman-teman untuk menggalang aksi di jalanan… heheheh itu kenangan masa lalu…

Share to Media
30 thoughts on “Guru itu “Provokator””
  1. Nice post. I learn something totally new and challenging on sites I stumbleupon everyday.
    It will always be exciting to read articles from other writers and use something from their websites.
    asmr 0mniartist

  2. Hey there! Someone in my Myspace group shared this site with us so I came to give it a look.
    I’m definitely loving the information. I’m book-marking and will
    be tweeting this to my followers! Exceptional blog and fantastic design. asmr 0mniartist

  3. Hello there, just became alert to your blog through Google, and found that it’s really informative.
    I’m gonna watch out for brussels. I’ll appreciate
    if you continue this in future. A lot of people will be benefited from your writing.

    Cheers! asmr 0mniartist

  4. mas Agung : jenengan betul sekali, tinggal bagaimana menyerap bai2nya aja pada guru…

    Toko Kerajinan : makasih mas, memang tidak dipungkiri selain sisi positif masih ada sisi negatif dari masing-masing guru, menurut saya tergantung individu dari yang bersangkutan…
    Maturnuwun sudah berkunjung ke gubug saya…

  5. salam kenal bro..
    sy ada pengalaman kurang mengenakkan dr seorang guru..guru sy dl..ni jujur & bwt hati sy miris..beliau bilang “mas, sudah gak ada istilah guru tanpa tanda jasa, yang ada guru cari duit buat makan”, emang ada benarnya..tp apa cm karena uang tanggung jawab utama seorang guru dilupakan? kalau memang seperti itu..wajar banyak guru offensip negatif terhadap siswanya!saya mengeneralisasikan profesi guru, karena guru tersebut adalah “kepala sekolah” unggulan!gimana dengan anak buahnya?

    jangan tersinggung ya!ni pengalaman pribadi & sy yakin masih banyak guru yg seperti “bapak oemar bakrie”

    http://niwira.blogspot.com/2011/03/motor-sport-yang-ada-sekarang-semuanya.html

  6. All : Yups guru bisa menjadi provokator, motivator, inspirator, atau apapun istilahnya yg penting untuk menjadikan siswa lebih baik…
    Slaam buat para Guru di Indonesia…
    Thanks udah ikut sharing…

  7. SEPAKAT…. selama memprovokasi dalam hal positif, apalagi dalm rangka memberikan motivasi anak didik saya kira g papa malah bagus

  8. kalo provokatornya untuk hal-hal yang baik sih, setuju2 saja mas, hehehe…
    salam buat anak muridnya yang pinter2 dan berfikiran positive.. 🙂

  9. kalo gitu gampang memprovaki murid pak..
    kalo ada yang telat masuk kelas, hukum aja nulis kata2 provokatif yang bisa mnesugesti anak2 supaya ga datang telat..
    kayak di foto itu..

    aku harus datang lebih cepat dari yang lain!!

  10. Assalamualaikum pak Mars
    Semoga dalam keadaan sehat selalu…!!

    Paragraf terakhirnya jujur sekali pak ^__^

    berarti bapak memang bener2 berjiwa probokator..provokator buat murid dan provokator buat mahasiswa…

    nah, pak nanti kalau bisa sekalian jadi provokator buat teman kerja..hehehhe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.