Menu

Guru Zaman Now, Guru yang Rajin Baca

08/02/2018 | CORETAN, INSPIRATIF, MOTIVASI

1

Kegemaran saya membaca buku akhir-akhir ini cukup tinggi sejak berakhirnya gelaran Pameran Buku di Prambanan Islamic Fair di MBS, 17-21 Januari 2018 yang lalu. Alhamdulillah atas izin istri tercinta anggaran membeli buku pada Januari saat itu harus mengalami pembengkakan, alhasil beberapa buku baru hadir melengkapi koleksi berjajar di lemari buku sebagian bahkan belum sempat saya buka. Alhamdulillah, kebiasaan membaca inilah yang akhirnya memudahkan saya untuk menulis, rasa-rasanya dari ribuan kosa kata yang saya baca dan masuk dalam otak saya ini ibarat peluru yang siap meluncur deras saat saya sedang asyik menuangkan ide-ide saya dalam sebuah tulisan.

Bagi kita selaku pendidik yang diamanahi tugas mulia menebarkan pengetahuan kepada para santri, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak berhenti belajar. Saya selalu menyimak dan merenungkan ungkapan yang selalu disampaikan sang pendiri MBS ini ustadz Nashir, bahwa faaqidusy syai-i laa yu’thiih, seseorang yang tidak memiliki, tak akan bisa memberi”. Seorang guru yang setiap hari berbagi ilmu, tidak akan mampu memberi ilmu tanpa dia memililki tambahan pengetahuan baru. Bayangkan sebuah analogi sederhana jika kita bertemu seorang pengemis, yang miskin untuk keperluan hidup sehari-hari saja sulit, bisakah kita meminta uang Rp 10 juta rupiah darinya?, Kita paksa sampai berdarahpun ia tetap tak akan bisa memberikan uang Rp 10 juta yang kita minta. Mengapa, ya karena ia memang tak punya uang tersebut.

Sekali lagi, faaqidusy syai-i laa yu’thiih, orang yang tidak memiliki tidak akan bisa memberi. Ulama zaman dulu bahkan sangat ketat dalam pengajaran ilmu. Dalam sebuah riwayat, Abu Yusuf yang sudah merasa cukup ilmunya, membuka majelis ta’lim sendiri, dan meninggalkan majelis ta’lim gurunya, Abu Hanifah. Abu Hanifah, ulama yang memiliki bashirah (mata hati) yang tajam, melihat Abu Yusuf belum matang ilmunya. Akhirnya, diutuslah oleh beliau seseorang, untuk hadir di majelisnya Abu Yusuf. Dititipkannya beberapa pertanyaan ke orang tersebut untuk diajukan ke Abu Yusuf, yang kemungkinan besar tak akan mampu dijawab Abu Yusuf. Di majelis Abu Yusuf, utusan Abu Hanifah menanyakan satu persoalan, kemudian dijawab Abu Yusuf. “Anda salah”, kata orang tersebut, kemudian ia jelaskan jawabannya yang benar, yang telah diajarkan Abu Hanifah. Diajukannya lagi pertanyaan demi pertanyaan, setiap dijawab Abu Yusuf, orang tersebut selalu menyatakan salah, dan ia berikan jawabannya yang benar. Akhirnya Abu Yusuf sadar bahwa orang tersebut adalah utusan Abu Hanifah, karena tanggapan-tanggapannya menunjukkan kedalaman ilmu yang hanya dimiliki Abu Hanifah. Akhirnya Abu Yusuf kembali mengikuti majelisnya Abu Hanifah.

Siapapun kita di MBS ini, sebagai pimpinan, guru, satpam, sopir, tukang kebun, pegawai dapur, memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi diri. Terlebih bagi kita seorang pendidik, membaca buku adalah satu cara menjaga semangat dan mengembangkan keilmuan, pada masa menteri pendidikan dijabat oleh Anies Baswedan, dulu ada satu program yang cukup bagus untuk para pendidik. Program Guru Pembelajar, satu program yang harus berhenti karena menjadi korban kebijakan ganti menteri ganti program. Seorang guru pembelajar wajib membaca sebuah buku hingga tuntas minimal satu buku setiap bulannya. Saya kira sudah menjadi pemahaman bersama bahwa guru zaman now adalah mereka yang mampu mengupgrade kemampuan dirinya dengan perkembangan zaman sekarang. Salah satu caranya tentu saja adalah dengan membaca buku.
Sayang seribu sayang, kalau kita melihat perkembangan zaman now, diluar sana fenomena yang ada pada sesama pendidik yang bergelut setiap hari dengan dunia keilmuan bersama siswa nyatanya belum banyak yang punya kebiasaan membaca buku. Kalaupun ada mereka lebih suka membaca buku semalam untuk persiapan materi mengajar besok. Kurang apalagi saat ini, memperoleh sebuah buku tidak perlu datang ke toko buku, dengan perkembangan tekhnologi informasi, membeli buku cukup dari dalam rumah melalui kecanggihan handphone kita. Situs belanja online sudah bertebaran, dan ini cukup membantu kita untuk mendapatkan buku yang kita inginkan. Selain itu, buku-buku juga sudah banyak diedarkan dalam bentuk digital ebook, tinggal klik download dan kita bisa membacanya.

Bagi saya, terkadang alasan kesibukan pekerjaan dan tugas-tugas menjadikan waktu saya cukup sempit dan tidak sempat membaca. Namun sebenarnya ini hanya soal budaya, sekali lagi ini soal budaya dan minat membaca kita yang masih rendah, berdasarkan Data dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menunjukkan, persentase minat baca anak Indonesia hanya 0,01 persen. Artinya, dari 10.000 anak bangsa, hanya satu orang yang senang membaca. Ah tentu ini data yang perlu di cari lebih dalam kebenaranya. Terlepas dari benar atau salah data tersebut, intinya minat baca kita masih rendah.
Kebiasaan membaca tidak bisa terbentuk secara tiba-tiba. Sehingga perlu pembinaan sejak sekarang, kalau guru sudah hobby membaca, dia akan memotivasi para siswa untuk ikut rajin membaca. Bagi lembaga pendidikan seperti MBS ini, peran para ustadz ustadzah selaku orangtua di pesantren sangat penting menumbuhkan minat dan kebiasaan gemar membaca. Dalam setiap kesempatan di kelas saya selalu memotivasi kepada para santri untuk anak tidak pernah lupa membaca. Memang idealnya kebiasaan ini dimulai dengan membaca minimal 10 menit sebelum kegiatan belajar dimulai agar. So, tidak ada alasan lagi untuk menunda-nunda membaca buku, jadi guru bukan hanya menguasai materi, tapi juga mampu menguasai dunia. Gerakan literasi, membaca dan menulis harus kita tumbuhkan di MBS ini . Jadilah pribadi yang memiliki, karena sesungguhnya seseorang tidak akan bisa memberi kalau dirinya tidak memiliki faaqidusy syai-i laa yu’thiih.

Yogyakarta, 8 Februari 2018

Related For Guru Zaman Now, Guru yang Rajin Baca