Menu

Karena Jarimu adalah Harimaumu

23/04/2018 | CORETAN, INSPIRATIF, RENUNGAN

 

jarimu

Beberapa bulan terakhir saya menahan diri untuk menulis, bahkan seorang rekan sempat bertanya kenapa saya jarang update status, atau jarang posting artikel lagi.  Memang ada kesengajaan saya kurangi membuat postingan terlebih menulis di dunia maya alias media sosial. Selain ingin menambah fokus dengan pekerjaan yang diamanahkan kepada saya,  memang bukan tipikal saya menuliskan segala sesuatu uneg-uneg harus di media sosial.  Saya masih memiliki hutang sebuah proyek buku yang menjadi target yang harus saya prioritaskan. Meskipun terkesan klasik, minimalnya ada alasan kesibukan yang bisa menjadi kambing hitam, menutupi sedikit rasa malas yang juga kadang mendera saya. lha kok malah jadi curhat…. hehehe

Namun, rasanya kangen juga memposting artikel di media pribadi saya ini, lebih-lebih era milineal yang sekarang menjadi ramai dengan hadirnya tahun politik.  Beragam tagar yang berseliweran di beranda facebook, twiteer, instagram dan medsos lainnya rasanya perlu diwaspadai. Memang kebiasaan bermain postingan curhatan di medsos umum seperti facebook dan whatsapp saya hindari.  Akan lebih cerdas jika postingan tersebut ditulis dalam bentuk sebuah artikel yang rapi dan elegan. Tentu bisa menjadi sebuah inspirasi bagi pembacanya, bahkan syukur-syukur jika disatukan artikel-artikel kita malah menjadi satu kesatuan buku yang layak diterbitkan.

Saya mencoba menganalisa pentingnya kita menulis sebuah postingan dimedia sosial, sebagai sarana dakwah efektif namun juga bisa menjadi pemicu perpecahan. Kalau dulu ada istilah “mulutmu harimaumu”, di era digital seperti sekarang ini, peribahasa tersebut mungkin bermetamorfosa menjadi “jarimu harimaumu”. Peribahasa ini ada benarnya mengingat banyak masyarakat yang terjerat masalah hukum karena cuitan yang tidak mengedepankan etika bersosial media.  Media sosial sebagai sarana untuk mengekspresikan uneg-uneg pengunanya, rambu-rambu kode etik acap kali diterobos sehingga apa yang dipublikasikan menjadi bumerang. Etika menjadi sebuah keniscayaan bagi pengguna media, terutama dalam mengekspresikan kegundahan.

Tentang bermain postingan disosial media ini, ada dua hal yang perlu diperhatikan oleh jari;  pertama, hati-hati ketika melakukan posting, dan kedua hati-hati ketika membagikan postingan orang lain. “Wise While Online, Think Before Posting”, begitu kira-kira ajakan untuk berhenti memperkeruh dunia maya dengan konten-konten negatif yang bisa merusak kerukunan dan keharmonisan bangsa. Semestinya kita bisa lebih bijak dan cerdas dalam menggunakan media sosial sebenarnya mudah, hal yang perlu dilakukan adalah MIKIR terlebih dahulu sebelum upload posting atau berbagai postingan di media sosial. Berikut adalah penjelasan tentang MIKIR;

M – Menghargai

Sebelum posting sesuatu di media sosial, pastikan dulu bahwa postingan tersebut tidak akan menyinggung perasaan orang lain. Jikapun postingan dimaksudkan untuk memberi kritik, maka sampaikan kritik tersebut secara santun, tidak perlu dibumbui dengan cacian dan sumpah serapah. Sikap menghargai terhadap perbedaan pemikiran atau pandangan harus selalu dikedepankan, ingat, menghargai tidak selalu berarti menyetujui. Silahkan beradu pendapat, namun tetap dalam suasana yang hangat dan bersahabat.

 I – Inspiratif

Salah satu hal tidak menyenangkan yang berseliweran di media sosial adalah menumpuknya postingan yang tidak jelas arah dan tujuannya; kebanyakan hanya berisi keluh kesah atau ungkapan kemarahan. Hal ini tentu tidak sehat untuk dunia maya, selain karena hal itu tidak memberi manfaat apa-apa kepada si pengunggah posting, orang lain yang melihatnya juga akan ikutan pusing.

Jadi, sebaiknya postingan hanya diisi dengan konten-konten positif dan inspiratif. Jikapun ada hal-hal tertentu yang dipandang mengecewakan, tidak perlu diumbar secara berlebihan. Lebih baik sampaikan kekecawaan tersebut dengan disertai saran dan masukan yang membangun. Jika ternyata masih belum punya saran, lebih baik diam. tidak perlu ikut larut dalam arus cacian yang jelas tidak akan memberi inspirasi apa-apa kecuali benci yang semakin menggila.

K – Kredibel

Postingan yang baik adalah yang berisi informasi yang bisa dipercaya (otentik dan valid), sehingga siapapun yang melihat postingan tersebut tidak akan terperosok dalam kebohongan atau bahkan fitnah. Minimal sebelum memutuskan untuk posting sesuatu, isi dari calon postingan dibaca ulang. Apakah sudah benar? Dan Apakah akan bermanfaat untuk orang lain?

I – Imbang

Imbang berarti tidak berat sebelah, dapat menampilkan informasi dari dua sisi yang dipertentangkan secara berimbang (cover both sides). Simpelnya, sampaikan informasi secara apa adanya, jangan ditambah-tambahi ataupun dikurangi.

R – Rasional

Meskipun letaknya paling akhir, namun rasional merupakan hal yang paling penting untuk diperhatikan. Rasional adalah masuk akal, postingan yang masuk akal adalah postingan yang akan mencerdaskan; berisi informasi yang tidak bertentangan dengan akal sehat, sehingga yang baca postingan akan tercerahkan dengan informasi-informasi yang benar.

Postingan yang berisi sindiran yang menyinggung, atau apapun istilahnya harus kita jaga. Boleh jadi apa yang kita tulis bukan bermaksud menyinggung, atau menyakiti pihak lagin, tapi persepsi dan analisa pembaca bisa sangat luas, malah bisa mengena dan menyakiti pihak lain. Maka saya mengajak diri sendiri dan orang lain untuk mulai belajar lebih bijak lagi menulis dimedia sosial, baik postingan di Facebook, Whatsapp, Twitter dan aneka media lainnya. Kebebasan dalam berpendapat tidak berarti bahwa kita boleh posting segala hal secara serampangan, karena kebebasan bukan kebablasan. Harus hati-hati pula dalam menyebarkan postingan, karena mulutmu, eh jarimu adalah harimaumu. Semoga bermanfaat.

Share to Media

Related For Karena Jarimu adalah Harimaumu