Menu

Kenapa Berani Jadi Guru ?

menggerakan vespa

Salam dahsyat guru hebat, adakah yang masih bertanya Kenapa saya berani jadi guru? Kenapa dulu saya kuliah mengambil jurusan pendidikan? Apakah sudah siap dan berani saya menanggung resiko dipanggil pak guru, bu guru?  Pertanyaan itu muncul sebagian diawal-awal sebagian guru. Bahkan ada yang bertanya, kenapa saya bisa jadi guru, padahal dulu tidak kuliah dijalur keguruan, jika anda bertanya demikian berarti sama persis dengan saya dulu.  Profesi guru adalah jalan yang harus ditempuh untuk menghantarkan kita ke surga. Berani ke surga? Berarti harus berani jadi guru.  Menjadi guru harus memiliki keberanian, eits jangan salah ya, jangan dikira ini semacam acara uji nyali yang dulu sering muncul di tv. Namun berani menjadi guru bisa dikatakan sebagai sebuah keputusan yang diikuti dengan segala hal konsekwensi yang menyertainya.

Menjadi guru itu bukan untuk diri sendiri ya, menjadi guru itu berarti anda menyiapkan diri anda untuk para siswa. Kalau sekedar untuk diri sendiri, cukuplah anda mengurus administrasi menyiapkan berkas sertifikasi. Maka banyak yang terjebak, menjadi guru tapai egois hanya untuk dirinya sendiri. Menjadi guru adalah untuk paras siswa, bukan untuk sertifikasi atau bahkan hanya untuk sekedar gaji.

Sebab itu, tugas utama guru adalah mendidik peserta didiknya agar menjadi manusia terdidik yang bermanfaat bagi bangsa dan juga bagi umat manusia, terutama dalam mewujudkan masa depan peradaban luhur. Jadi seorang guru bukan sekadar melakukan transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur dalam rangka membentuk karakter dan kepribadiannya siswa.

Guru menjadi sosok yang harus mendampingi siswa untuk menyiapkan diri memiliki integritas moral dan akhlak mulia,  membekali diri dengan kompetensi, sikap positif, dan keterampilan hidup agar bisa menjalani dan memaknai kehidupannya, sehingga mencapai sebuah tujuan utama kebahagiaan dunia dan akhirat.

Meski demikian, tentu tidak semua guru mempunyai idealisme sebagai pembangun peradaban bangsa. Tidak sedikit guru yang semestinya digugu dan ditiru, justru diguyu dan ditinggal turu (ditertawakan dan ditinggal tidur oleh siswanya). Jika ditanya kenapa memilih menjadi guru, barangkali mereka memiliki alasan yang terlalu dangkal, hanya sekedar ingin mencari pekerjaan dengan penghasilan yang sesuai keinginan saja. Inilah alasan yang tidak sesuai dengan harapan nilai-nilai luhur perjuangan bangsa ini kedepan.

Maka selamat dan sukses bagi para sahabat yang memilih menjadi guru dengan alasan sebagai sebuah pengabdian mulia. Berani menjadi guru yang siap mencetak kader-kader terbaik bagi bangsa, bermanfaat bagi umat dan agama.  Modal keberanian menjadi guru itulah awal yang baik, meski sebenarnya bukan sekedar berani saja. Berani menjadi guru diawali dengan nurani kita sebagai seorang pendidik. Ingat ya, nurani sebagai pendidik. Jadi sebenarnya syarat menjadi guru tidak mutlak harus berlatar belakang akademik, banyak  juga lulusan perguruan tinggi yang berlatar belakang jurusan ilmu pendidikan dan keguruan ternyata malah enggan menjadi guru, karena tidak memiliki naluri sebagai pendidik. Sebaliknya, ada juga sebagian dari para guru yang latar belakang pendidikannya bukan di jalur pendidikan dan keguruan namun memiliki nurani yang kuat sebagai pendidik.

Idealnya, menjadi guru harus berlatar belakang pendidikan yang mendukung persiapan menjadi guru. Namun perlu diingat bahwa pada dasarnya, manusia itu ditakdirkan menjadi guru bagi manusia generasi penerusnya tidak memandang latar belakang akademiknya. Semua orang boleh dan tentu tidak dilarang menjadi guru, pria wanita, miskin kaya dari latar belakang apa pun dengan keyakinan apa pun dipersilahkan menjadi guru. Namun demikian, hanya orang-orang tertentu saja nantinya yang layak disebut dengan panggil “guru”,  siapa saja mereka itu?

Mari kita simak, akronim asal muasal kata “guru” konon katanya kata guru berasal dari arkronim “digugu” dan “ditiru”.  Dalam bahasa jawa “digugu” artinya dapat dipercaya, bahwa orang yang pantas digugu (dipercaya) dan ditiru itulah yang layak menjadi guru. Dari ucapan, perbuatan dan tindakan semestinya pantas untuk diikuti oleh orang lain terutama para siswa.

Jika sistem pendidikan mengutamakan proses yang berjalan sesuai dengan kaidahnya yaitu membantu siswa menemukan potensi dirinya sedini mungkin. Siswa diberikan bekal untuk belajar bagaimana cara belajar. Guru yang mampu mengutamakan proses inilah yang bisa terus memacu semangatnya untuk terus berbuat lebih baik, dari proses yang dijalani dalam setiap pembelajaran yang dilakukan dikelas.

Bersyukurlah atas keberanian anda memilih guru sebagai profesi kebanggaan, coba bayangkan seandainya salah satu dari siswa anda sekarang ini kelak menjadi salah satu pemimpin terbaik negeri ini, tentu saja hanya kebangaan yang akan anda rasakan. Bentuk rasa syukur kita sebagai guru tentu saja dengan tetap konsisten pada amanah sebagai pendidik. Tugas pokok pendidik adalah menjadikan anak-anak tumbuh menjadi manusia yang cerdas berilmu pengetahuan dan yang paling penting memiliki akhlak mulia. Tugas ini begitu mulia, maka tidak salah jika kita disebut juga manusia berhati mulia.

Keberhasilan kita bukan semata-mata diukur dengan suksesnya para peserta didik kita menjadi apa yang mereka cita-citakan, bukan sukses sekedar menjadi dokter, polisi, tentara, dan lain-lain. Keberhasilan kita manakala anak-anak yang kita didik berubah menjadi lebih tau dari yang belum tau, tidak bisa berubah menjadi bisa, tidak terbiasa menjadi lebih terbiasa sesuai dengan keinginan kita.

Berani menjadi guru, ini bukan sekedar mau menerima konsekwensi yang lahir dari keberanian tersebut, tetapi bisa menjadi pematik kita untuk menghadirkan api semangat. Lihatlah para pejuang pahlawan kemerdekaan dulu, mereka berani mematik semangat dengan keberanian yang tinggi untuk bersiap menghadapi penjajah dan mengusirnya dari negeri ini. Pun demikian menjadi guru, harus berani mengobarkan semangat untuk mendedikasikan hidupnya, mengorbankan waktunya kepada profesi yang dijalaninya. Bukan bermaksud menakut-nakuti kita yang sudah terlanjur jadi guru, atau mematahkan semangat para calon guru. Namun inilah hal yang harus dimunculkan sejak awal ketika kita menyatakan siap menjadi guru, berarti berani menjadi guru.

Sudah sempat disinggung bahwa modal utama dan modal awal guru bukan pada pendidikan akademik, melainkan terbangunnya paradigma melalui nurani sebagai pendidik, maka siapa pun kita bisa menjadi guru. Dengan keberanian dan modal awal nurani pendidik yang sudah dimiliki, otomatis modal kita untuk bersiap menuju jurus-jurus dahsyat menjadi guru dahsyat akan kita mulai dari sekarang.

Menjadi guru adalah kehormatan tertinggi, melalui profesi mulia Ini kita bisa mengajarkan para siswa dalam berbagai hal, mulai dari akademis, emosional, dan keterampilan, turut membantu mengubah hidup dan mengantarkan anak didiknya menjadi orang sukses. Menunjukkan jalan kebahagiaan didunia hingga akhirat.  Syarat utama dari profesionalisme seorang guru adalah panggilan jiwa. Seseorang yang melakukannya atas asas tersebut, maka akan menjalani profesinya dengan semangat pengabdian. Bahkan kini, ada banyak Guru yang mengabadikan dirinya menjadi guru di daerah terpencil. Kepuasan dari pekerjaan sebagai seorang guru didasari oleh keberhasilan kita dalam memberikan nilai manfaat bagi sesama dan diri sendiri.

Selain sebagai pembimbing dan pemberi arah dalam pendidikan, guru juga berfungsi sebagai motivator dan fasilitator dalam proses belajar-mengajar, yaitu berupa teraktualisasinya sifat-sifat ilahi dan mengaktualisasikan potensi-potensi yang ada pada diri peserta didik guna mengimbangi kelemahan-kelemahan yang dimilikinya. Jadi sudah jelas bahwa ketika ditanyakan alasan kenapa menjadi guru, akan banyak alasan yang bisa kita sampaikan. Betapa kebanggan menjalani profesi ini patut kita jadikan sebuah semangat awal menuju perbaikan dari waktu ke waktu.

Salam Dahsyat Guru Hebat

(Sumber Buku : “Cara Dahsyat Menjadi Guru Hebat”)

Share to Media

Related For Kenapa Berani Jadi Guru ?