Menu

Kenapa Toko Pojok Lebih Ramai?

09/02/2018 | BERITA, CORETAN, EKONOMI, RENUNGAN

IMG20180209093622

Namanya “Toko Pojok”, itu yang sering saya dengar dari para santri MBS yang kerap berbelanja disana. Entah mengapa dinamakan Toko Pojok, mungkin supaya gampang saja, lebih mudah mengingat karena letak toko tersebut memang berada dipojok jalan. Tepatnya perempatan didekat perlintasan kereta api Prambanan. Sekilas tidak ada yang berbeda dengan dengan toko lain, bahkan di toko ini suasana terkesan sedikit sumpek, penataan barang masih belum rapi. Pelayananya juga biasa saja, malah cenderung cuek, ini yang saya rasakan saat saya mencoba kesini hari Jumat ini.

Untuk mengobati rasa penasaran saya, saya menyengaja menuju toko yang berdiri tidak jauh dari perlintasan kereta api Prambanan itu. Begitu saya kesana, sudah ada 3 mobil angkutan warna kuning yang mangkal, seperti angkot yang menunggu antar jemput penumpang diterminal. Saya sudah cukup dibuat kaget begitu masuk kedalam toko, apa yang terjadi di toko ini menarik perhatian saya. Masuk kedalam toko terasa sekali nuansa santrinya, disetiap sudut bertemu dengan santri putri yang sedang memilih barang keperluan harian mereka, sesekali mereka tersenyum malu dan menyapa saya.

Diluar toko duduk berjajar diteras nampak beberapa santri sedang menunggu teman berbelanja, sepertinya mereka baru selesai mendapatkan barang yang mereka butuhkan.  Terlihat beberapa bungkus plastik besar yang terisi penuh dengan beraneka barang belanjaan diletakan disamping mereka. Sepertinya ada lebih dari 20 anak yang hilir mudik disini, mereka datang dan pergi diatar oleh mobil-mobil angkutan berwarna kuning yang sudah hafal jadwal perkeluaran. Saya jadi berpikir konyol, nampaklnya ini lebih mirip disebut toko milik pesantren, karena pembelinya sebagian besar adalah santri. Bertambah kaget, sesaat sempat melihat, salah satu struk belanja mereka, ada angka yang cukup fantastis, sekali belanja salah satu dari mereka menghabiskan Rp. 66.000, bahkan ada yang mencapai lebih dari Rp. 100.000. Barang yang terlihat dalam 2 kresek plastik cukup beragam, mulai dari sabun, pasta gigi, shampo, dan tentu saja paling dominan adalah aneka camilan kegemaran mereka.

Hati kecil saya bertanya, mengapa mereka para santri itu lebih senang berbelanja disini. Bukankah MBS memiliki toko grosir sekelas Hasbuna yang katanya juga menjual kelengkapan harian. Bahkan dengan label Grosir yang semestinya harganya lebih murah. Mengapa mereka rela antri, menunggu waktu jadwal pengeluaran, siap membayar angkot yang dilebihkan harganya karena harus berbelok arah diluar rute para sopir. Padahal sejatinya Pesantren kebanggan mereka memiliki toko sendiri, Grosir dan Minimarket Hasbuna yang setia menunggu kehadiran mereka setiap jadwal keluar. Mengapa! Satu kata yang harus segera saya cari jawabanya.

Saya berfikir sudah saatnya ada evaluasi pemahaman mindset para santri agar lebih mencintai dan menbeli produk milik pesantren. Gerakan belanja di toko sendiri, yang sering kita dengungkan belum bisa banyak membawa perubahan. Beberapa saat lalu eorang wali santri dari UMY pernah bercerita kepada saya, tentang program ekonomi di UMY, namanya program Gerakan Beduk Mutu, yaitu Beli Produk Muhammadiyah Bermutu, dimana semua guru dan karyawan juga para mahasiswa wajib membeli produk-produk internal mereka. Alhasil, inilah yang akhirnya menumbuhkan kesadaran untuk saling meningatkan agar menjadikan usaha miliki sendiri bisa lebih maju. Kita sadar, bahwa di MBS ini harus diakui bahwa kesadaran para keluarga kita untuk berbelanja diunit usaha milik pondok belum sepenuhnya tumbuh. Misalnya untuk membeli keperluan harian setiap bulan, tidak semua dari kita berbelanja ke Hasbuna Grosir, Hasbuna Mart, TokoMu, dan TB Hasbuna. Ini terjadi hampir menyeluruh dari semua unsur, pimpinan, guru karyawan para santri dan apalagi wali santri. Membayangkan seandainya semua pihak memiliki kesadaran untuk memajukan unit usaha sendiri, dengan semboyan bersama dari kita untuk MBS, apalagi ditambah ribuan wali santri bisa ikut mendukung, niscaya usaha kita semakin maju dan berimbas pada kemajuan dan pengembangan MBS ini.

Namun demikian, pengelolaan dari masing-masing unit usaha juga mesti kita lakukan. Peningkatan layanan dan keberanian untuk memperbaiki diri harus menjadi jawaban atas minimnya gerakan belanja santri di Hasbuna. Mari kita temukan sebuah cara dan solusi, agar gerakan berbelanja di unit usaha sendiri bisa menjadi gerakan yang masif. Dan jangan lupa untuk selalu mengevaluasi diri, itu jauh lebih penting ketimbang menjadikan kesalahan pihak lain sebagai alasan, saya ingat salah satu materi dari motivasi pendiri MBS ini Ustadz Nashir sering menyampaikan bahwa “Orang yang sukses selalu memiliki satu cara untuk mencapai keberhasilan, sedangkan seorang pecundang selalu memiliki seribu alasan menuju kegagalan”

Jum’at Berkah, Sudut Asrama Khodijah,

9 Februari 2018.    10.45 wib

Share to Media

Related For Kenapa Toko Pojok Lebih Ramai?