Menu

Kisah Pilu Pak Guru Budi, dan Karakter Kids Zaman Now

budi

Tahun 2018 baru saja berjalan satu bulan, memasuki bulan kedua kali ini kita disuguhkan sebuah berita yang kurang nyaman, dan tentu tidak menarik dibahas, bahkan cenderungnya pemberitaan media lebih sunyi ketimbang berita huru hara politik negeri kita ini. Kisah pilu datang dari ujung timur pulau jawa, disebrang pulau madura seorang pendidik bernama Budi Cahyono, sebut saja Pak Guru Budi. Seorang guru honorer di sebuah sekolah yang harus rela menjadi korban dari penganiayaan yang dilakukan oleh muridnya sendiri.

Kisah ini bermulai dari proses pembelajaran dikelas, dimana proses ini semestinya menjadi sarana transfer ilmu pengetahuan dari seorang guru kepada siswa, sebuah proses mulia yang tidak semestinya dikotori dengan aksi-aksi pelecehan dalam dunia pendidikan. Namun, nasib berkata lain, hanya karena sang murid tidak terima saat dibangunkan dan ditegur saat mengganggu pembelajaran, sang murid mengamuk dan memukul gurunya tanpa ada sedikitpun rasa hormat.

Tragedi penganiayaan pak Guru Budi berlanjut sampai perjalanan pulang selepas jam sekolah, diperjalanan pulang si murid durjana kembali melakukan penganiayaan, dan rasa sakit yang diderita oleh pak guru bertumpuk, bukan sekedar sakit hati dipenuhi kecewa namun juga sakit secara fisik kepala hingga keorgan dalam, sakit tak tertahankan, keluarganya sempat membawanya ke Rumah Sakit, namun nyawanya tidak tertolong.  Pak Guru Budi harus meregang nyawa, pergi meninggalkan luka dan keprihatinan bagi kita, bagi negeri ini khususnya bagi penggerak dunia pendidikan. Sulit dicerna dengan nalar sehat, seorang murid yang semestinya memiliki karakter patuh dan hormat pada guru, namun rasa-rasanya kepatuhan ini sudah tidak ada lagi pada pelaku. Kemanakah nilai-nilai yang semestinya ditanamkan?.  Rasanhya sikap hormat murid kepada guru dijaman sekarang tidak seperti dulu, generasi jaman dikenal dengan istilah kids jaman now mengalami krisis moral yang cukup parah. Inilah salah satu bukti gagalnya proses pendidikan yang hanya mengedepankan nilai-nilai kognitif semata. Barometer pendidikan kita masih terjebak pada nilai angka yang terkadang mengesampingkan nilai-nilai karakter dan akhlak siswa.

Pak Budi meninggalkan seorang istri yang masih mengandung calon generasinya, tentu ini menambah keprihatinan kita semua. Tidak bisa dibayangkan bagaimana bagi istri yang ditinggalkan, kelak anak yang lahir tidak akan mengetahui ayahnya, dan hanya mengenal melalui media tentang kisah pilu seorang guru Budi, ayahnya yang menjadi korban kebobrokan moral muridnya sendiri.  Semestinya ini menjadi persitiwa yang bisa kita jadikan pembelajaran. Pembelajaran tentang sistem pendidikan di negeri ini masih jauh dari harapan. Anak-anak jaman sekarang yang diharapkan bisa menjadi generasi terbaik dan siap membangun bangsa justru mengalami degradensi moral. Inilah kegelisahan yang selama ini dihadapi masyarakat umum, dengan perkembangan zaman yang semakin maju dibutuhkan sistem pendidikan yang mampu memproteksi  anak dari lajunya pengaruh sosial.

Pedidikan Pesantren sebagai Solusi Alternatif

Pembangunan benteng karakter melalui pendiikan yang dibangun disekolah-sekolah umum nyatanya belum mampu menjawab kegelisahan kita.  Hilangnya rasa empati, dan hormat kepada guru, berbagai kasus penganiayaan, pelecehan dan tindak kriminal yang dilakukan oleh anak-anak sekolah termasuk yang terjadi pada pak Guru Budi menjadi salah satu bukti nyata mulai rapuhnya karakter anak bangsa. Kita meyakini masih banyak pak Budi lainnya yang tidak dihormati oleh para murid-muridnya, masih banyak Guru-guru di Indonesia yang akhirnya memilih mencari “aman” menghadapi kenakalan para muridnya dengan aksi pembiaran. Bukan berarti setuju dengan prilaku siswa, para guru cenderung tidak berani mengambil resiko jika menegur, ataupun memberi sanksi dalam rangka mendidik. Tentu belum hilang ingatan kita kasus beberapa waktu lalu, seorang guru harus berhadapan dengan penegak hukum karena dilaporkan oleh orang tua karena tidak terima dengan sanksi yang diterima anaknya. Inilah generasi saat ini, perkembangan generasi yang semakin maju tidak diiringi dengan benteng akhlak para generasinya. Peristiwa ini menyentuh rasa keprihatinan kita yang paling dalam, mencabik-cabik nilai-nilai karakter yang sedang kita perjuangkan. Semoga kelak tidak akan terulang kasus serupa dan kita bisa mengambil hikmah terbesar dari pelajaran ini.

Lantas masih adakah pola pendidikan yang bisa menjadi salah satu alternatif terakhir sebagai benteng terakhir generasi kita. Jawabanya ada pada lembaga pendidikan yang berusia lebih tua dari negeri ini yaitu Pesantren.  Sejak dahulu pesantren sudah menjadi bukti sebuah pola pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman. Sejak era tradisional hingga modern, pesantren menjadi lembaga yang melintasi dengan berbagai pola-pola penanaman akhlak dan karakter bagi para santri.  Tidak terbantahkan, melalui pesantren lahirlah generasi-generasi yang berakidah kuat, mampu menghadapi berbagai tantangan zaman dan tidak tertinggal dengan generasi lainnya.  Pesantren zaman sekarang sudah berbeda dengan zaman dahulu, stigma yang melekat bahwa pesantren adalah kumuh, jorok terbelakang dan tidak update lambat laun sudah hilang.  Pesantren mampu mengikuti perkembangan zaman dan merubah stigma tersebut, betapa banyak pesantren modern yang sudah membuktikan eksistensinya tidak kalah dibanding dengan lembaga pendidikan lain.

Maka beruntunglah bagi kita yang pernah merasakan atau saat ini menjadi bagian dari pendidikan di pesantren,  lembaga ini bisa menjadi salah satu alternatif pendidikan bagi anak-anak kita kelak. Disinilah santri menerima pendidikan yang seutuhnya selama 24 jam baik di asrama maupun didalam kelas. Karakter disiplin, berani mandiri, ta’dzim terhadap guru, menghormati orang lain, kerjasama, hanya bagian-bagian kecil yang selalu ditanamkan di pesantren.  Bagian kecil yang tertumpuk namun akan menjadi pondasi kokoh laksana benteng bagi karakter santri.  Yang lebih utama tentu saja adalah nilai-nilai keimanan dan akhlak Islami yang terus dibangun sebagai bekal bagi kehidupan setelahnya kelak.

Semoga kisah pilu pak Guru Budi mampu membuka mata hati dan pikiran kita, tentang bagaimana memperbaiki sistem pendidikan, dari dalam lingkungan terdekat bagi anak-anak kita. Pendidikan karakter harus dibangun dari sejak kecil melalui lingkungan terkecil di dalam keluarga dan masyarakat. Membentengi anak-anak kita dari derasnya informasi dengan pendampingan dan pembiasaan yang positif dari dalam rumah akan lebih baik ketimbang memberikan kebebasan anak bergaul luas melalui media sosial. Bagi pemerintah, sudah saatnya bangsa ini mempersiapkan generasi dengan mengedepankan pembinaan melalui pendidikan karakter disekolah-sekolah agar tidak perlu lagi  kisah pilu pak Guru Budi terulang kembali. Semoga.

 

Share to Media

Related For Kisah Pilu Pak Guru Budi, dan Karakter Kids Zaman Now