Menu

Ramadhan dan Kehati-hatian

22/05/2018 | INSPIRATIF, MOTIVASI, RENUNGAN

hati2

Perjalanan Ramadhan tanpa terasa sampai dihari ke 7, fase awal ibadah dibulan penuh kemuliaan ini telah kita lewati.  Kita berfikir positif, jamaah masjid insyaAllah masih bertahan menjalankan sholat tarawih, semangat membaca Qur’an juga masih terjaga. Satu pertanyaan dari perjalanan awal Ramadhan ini, apakah yang sudah kita dapatkan dari puasa dan serangkaian ibadah yang sudah kita jalankan? Tentu jawaban dari pertanyaan tersebut sangat relatif, antara seorang dan orang lainnya berbeda-beda, tergantung bagaimana kita memanfaatkan setiap momentum yang disediakan Allah dalam bulan Ramadhan. Namun, semuanya harus dimuarakan pada tujuan utama diwajibkannya puasa Ramadhan, sesungguhnya yang akan didapatkan adalah meningkatnya ketakwaan, baik dalam skala pribadi maupun bermasyarakat.

Dimensi taqwa sesungguhnya teramat luas maknanya, juga teramat dalam pengertiannya. Takwa bagi sebagian ulama dimaknai sebagai sebuah kehati-hatian.  Ini cukup penting dihadirkan dalam kehidupan keseharian masyarakat Indonesia saat ini yang tengah menghadapi beragam problematika. Belakangan ini, kita menyaksikan tindakan anarkis dan kekerasan yang dilakukan oleh sebagian warga masyarakat terhadap sebagian yang lainnya. Hari demi hari media massa tidak bosan memberitakan berbagai gejala sosial, dari berbagai permasalahan sosial di masyarakat. Belum lagi ditambah kondisi perekonomian bangsa yang cenderung mengalami penurunan dengan indikasi naiknya berbagai harga kebutuhan pokok.

Sesungguhnya puasa melatih kita untuk bisa menahan dan mengendalikan diri.  Ada saat di mana kita boleh makan dan minum dan ada saat di mana kita sudah tidak diperbolehkan lagi untuk makan dan minum. Ada batas waktu yang jelas yang membedakan keduanya. Ini adalah sebuah latihan kehati-hatian yang kita lakukan sepanjang bulan Ramadhan. Tradisi masyarakat kita, ada satu peringatan menjelang datangnya Subuh, yakni imsak. Imsak ini merupayakan sebuah upaya untuk memberi tanda peringatan agar masyarakat berhati-hati bahwa beberapa menit lagi akan tiba waktu shalat Subuh yang menjadi tanda dimulainya ibadah puasa. Dengan peringatan imsak maka kita mulai menghentikan aktivitas sahur dan bersiap untuk menunuaikan shalat Subuh berjamaah ke masjid.

Peringatan imsak ini bisa menjadi pembelajaran yang mengandung makna mendalam bagi kita, bawa dalam kehidupan yang lebih luas kita harus terbiasa menjaga diri dan berhati-hati dari berbagai tindakan yang bisa menyebabkan kerusakan dan kerugian. Puasa Ramadhan sungguh telah memberikan pelatihan dan pembiasaan yang sangat positif bagi setiap pribadi dan bagi masyarakat secara keseluruhan agar senantiasa memiliki sikap kehati-hatian dalam kehidupan.

Semestinya kita harus lebih bijak dengan mengetahui betapa mulia bulan Ramadhan ini, caranya tentu dengan menjaga dan membersihkan diri kita dari hal-hal yang menghilangkan nilai ibadah kita.  Bukankah tidak ada jaminan kita akan berjumpa dengan Ramadhan yang akan datang?  dan waspadailah sifat-sifat yang akan mengurangi kualitas ibadah puasa kita yang mengakibatkan kurangnya pahala bahkan bisa sirna sama sekali. Karenanya,  jahuilah segala bentuk prasangka, ghibah, dan berbagai penyakit hati lain yang akan menggugurkan pahala puasa kita.

Kita perlu mengoptimalkan semangat ibadah dalam Ramadhan ini, tapi hati-hati jangan sampai terjerumus dalam riya’ dan ujub. Misalnya, menulis di media sosial terkait ibadah yang kita jalani. Meskipun hal tersebut tidak dilarang (haram), tetapi menutup pintu riya’ dan ujub jauh lebih baik. Semoga Allah SWT memudahkan kita semua mendapatkan ampunan-Nya di bulan yang mulia ini

Seharusnyalah kita lebih berhati-hati dalam bersikap, menjaga nilai-nilai ibadah kita utuh tanpa ternoda. Karena bisa jadi disebabkan ketidak hati-hatian kita, ibadah puasa yang kita jalani berkurang nilainya, atau bahkan tanpa nilai yang hanya berakibat lapar dan haus saja. Rasulullah sudah mengingatkan kepada kita bahwa tidak sedikit orang yang menjalankan ibada puasa tidak memperoleh apa-apa kecuali lapar dan haus saja. Maka prinsip kehati-hatian inilah yang harus terus kita jaga.

Puasa mengajarkan kehati-hatian dari berbagai aspek,  contohnya dalam berkomunikasi di media sosial lebih-lebih saat ini kita dihadapkan pada kemudahan akses informasi, sehingga dengan mudah apapun informasinya bisa kita peroleh dan saat itu juga kita bisa sebarkan dengan satu kali tombol klik. Maka sungguh akan merugilah mereka yang terlena berlebih-lebihan dengan media sosial. Tidak jarang informasi yang kita baca dan sebarkan kepada orang lain melalui media sosial mengandung kebohongan dan bernilai fitnah.

Berbicara dengan orang tua, rekan kerja, teman bermain dilingkungan sekitar juga harus berhati-hati. Jangan sampai apa yang kita bicarakan menjadikan seseorang tersakiti atau menyinggung perasaan. Rasanya ramadhan menjadi salah satu rem yang cukup efektif agar kita berhati-hati dalam segala tindakan, ucapan dan perbuatan.  Masih ada sisa waktu hingga perjalanan ibadah puasa paripurna, saatnya ibadah ini dihiasi dengan ibadah-ibadah lain ketimbang berbuat sia-sia lainya. Maka berhati-hatilah…

Yogyakarta, Ramadhan ke 7 1439 H

 

 

Share to Media

Related For Ramadhan dan Kehati-hatian