Menu

Ramadhan dan Wakafa Billahi Syahida

29/05/2018 | INSPIRATIF, MOTIVASI, RENUNGAN

wakafa

Ramadhan berlalu melewati sepuluh hari pertama, dan akan tiba pada setengah perjalanan. Pertanyaan penting, sudahkan kita menghitung sejauh mana Ramadhan effect mejadi pengaruh kebaikan kepada diri kita. Sudahkah kita meraih ribuan keberkahan dengan banyaknya keutamaan Ramadhan dari segala prilaku yang kita jalani.

Saatnya mengevaluasi perjalanan Ramadhan kita, dan jujurlah pada diri sendiri tentang perjalanan kita, sebab kejujuran tekad akan mencegah kita dari melemahnya keinginan. Sedangkan kejujuran amal akan mencegah kita dari rasa malas dan jenuh dalam beraktivitas harian. Maka, bagi siapa yang jujur terhadap Allah dalam apapun urusannya, Allah akan berbuat untuknya lebih dari apa yang Allah akan perbuat untuk selainnya.

Ibadah Puasa dalah ibadah khusus yang dinilai langsung oleh Allah. Maka cukuplah Allah sebagai penjamin. ’Wa kafaa billahi syahidaa. ‘Cukup Allah sebagai saksi.’ Segala yang kita perjuangkan dalam Ramadhan ini, segenap usaha yang kita kerahkan demi menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Melalui ibadah-ibadah yang kita jalani, sungguh demi Allah, segala yang kita lakukan tidak akan pernah luput dari penilaianNya sama sekali.

Cukuplah Allah menjadi saksi perjalanan kita, perjuangan dan semangat beramal sholeh yang kita lakukan demi gelar taqwa diakhir nanti harus kita pertahankan.  Karena sejatinya memasuki akhir ramadhan dipertengahan kedua, godaan dan ujian kita bisa jadi lebih berat.  Boleh jadi masjid akan ditinggalkan, sebagian kita justru sibuk dengan persiapan menghadapi lebaran, berbelanja memenuhi swalayan dan pusat-pusat perbelanjaan.  Maka tidak heran jika jumlah jamaah shalat tarawih disebagian besar masjid mengalami kemajuan barisan shafnya, jika biasanya berdesak penuh diawal-awal Ramadhan selanjutnya akan berkurang jumlahnya.

Jika tujuan takwa menjadi akhir dari seluruh amalan ramadhan kali ini, sungguh keridhoan Allah tentu menjadi syarat utamanya. Maka jangan pernah pedulikan apa yang orang lain katakan tentang seluruh ibadah yang kita lakukan. Jangan pernah sibuk dengan penilaian orang lain, atau bahkan jangan pernah mencari penilaian orang lain. Seluruh amal ibadah cukuplah Allah saja menjadi saksi “Wakafa billahi syahida.

Cukuplah Allah menjadi barometer setiap gerak kita,  dipertengahan hingga akhir perjalanan Ramadhan ini ke mana kaki hendak melangkah. Ke mana mata hendak memandang, apa yang ingin telinga dengar.  Apa yang harus kita baca, apa yang mesti kita ucapkan, jika apa yang kita lakukan sudah sesuai syariat, maka abaikan saja penilaian orang lain. Jika memang penilaian itu mengandung sebuah nasihat kebajikan, bukalah lebar-lebar telinga dan mata hati kita.

Puasa Ramadhan dengan seluruh bingkai ibadah yang mengiringinya adalah upaya membentuk kesalehan individu. Menuju pribadi yang lebih baik, dengan gelar takwa yang sudah dijanjikan. Tentu kesalehan individu yang sedang kita bangun ini akan sangat mempengaruhi kesalehan sosial.  Dari sudut kesalehan sosial, mari kita ukur seberapa besar pengaruhnya ibadah puasa kita terhadap kebaikan diri yang membawa manfaat disekitar kita.  Maka anjuran untuk bersedekah, berzakat dan membantu kaum yang lebih lemah merupakan satu amal kebaikan yang sangat dilipatkan pahalanya disisi Allah. Jika ibadah puasa kita tidak kita diiringi dengan kepekaan sosial yang tinggi terhadap orang-orang disekitar kita, maka bisa jadi Ramadhan kali ini tidak berdampak pada kesalehan sosial kita.

Ramadhan yang dianugerahkan Allah dengan segala keberkahan ini adalah sebuah bentuk nyata atas kasih sayang serta melimpahnya rahmat Allah yang wajib kita syukuri. Maka salah satu bentuk rasa syukur itu dengan cara mengoptimalkan momentum ini semaksimal mungkin untuk mencapai derajat keimanan dan ketaqwaan tertinggi.

Namun, sekali lagi cukuplah Allah yang menjadi saksi dari setiap amalan kita, jangan pernah mengotori niatan ibadah ini dengan pengharapan pujian dari manusia.  Karenanya, mari kita evaluasi dengan bermuhasabah sejauh mana pengaruh Ramadhan terhadap diri kita. Dan kita jaga sisa perjalanan Ramadhan ini sebagai momentum menguatkan latihan dan pembiasaan amalan sholeh tidak hanya untuk memperkuat dimensi kesalehan individu, namun juga kesalehan sosial. Yang paling penting, peningkatan kesalehan ini jangan hanya seolah “berlaku” dan meningkat di bulan Ramadhan saja, dan kemudian menurun atau bahkan menghilang di waktu-waktu lain.  Inilah tanggung jawab kita untuk memastikan Ramadhan effect berlaku seterusnya, secara berkelanjutan di bulan-bulan setelahnya. Dan cukuplah Allah menjadi saksinya,  Wallahu a’lam bis-shawab.

Yogyakarta,  Ramadhan ke 13 1439 H / Mei 2008

Share to Media

Related For Ramadhan dan Wakafa Billahi Syahida