Menu

Sehari di Kota Alexandria

24/02/2018 | CERITANYA, CORETAN

 

IMG20171225135112

 

Alexandria,  kota indah ditepian laut Meditarenia, bisa menyusurinya dan menikmat setiap sudutnya menjadi satu kenangan indah tidak saya lupakan. Alexandria atau Iskandariyah, merupakan kota terbesar kedua di Mesir. Kota yang dibangun oleh Alexander Agung ini memiliki sejarah panjang. Alexandria merupakan kota yang eksotik, dilihat dari tata letaknya, serta sejarah yang dimiliki kota ini. Mendengar kata Alexandria, bagi saya adalah kota yang sangat indah, dan hal itu ternyata tidak salah. Di Mesir, Alexandria merupakan kota terbesar kedua setelah Cairo dengan jumlah penduduk hingga mencapai 4,1 juta jiwa. Wilayahnya yang strategis membuat kota yang satu ini sangat terkenal, baik sebagai tempat wisata, ataupun sentra ekonomi perdagangan. Yaitu terletak di sebelah utara Mesir dan memanjang 20 mil di pesisir laut Mediterania..

Dibangun oleh Alexander The Great atau Iskandar Zulkarnain dari Romawi pada tahun 332 SM, kota pelabuhan ini pernah menjadi ibukota Mesir selama 1.000 tahun. Sebagai sebuah kota tua, Alexandria sudah pasti menyimpan banyak jejak sejarah. Mulai dari sejarah pada masa kenabian hingga periode-periode selanjutnya. Salah satu bukti peninggalan sejarah yang sangat mengagumkan di kota ini adalah sebuah perpustakaan tertua di dunia. Perpustakaan ini didirikan pada tahun 323 SM oleh Ptolemi I, penguasa panglima militer yang dikenal sangat mencintai ilmu.  Di Alexandria pula, ilmuwan-ilmuwan besar yang menciptakan dasar pengetahuan bagi umat manusia seperti Euclides, Archimedes, dan Erathostenes menghabiskan sebagian hidupnya. Alexandria juga menjadi saksi bisu kisah cinta antara Ratu Mesir yang kecantikannya melegenda, Cleopatra dengan Julius Caesar.

Kemasyuran kota Alexandria yang menjadi kota terbesar kedua di Mesir setelah Kairo ini membuat langkah kaki menuju kota tersebut pada hari itu menjadi sangat ringan dan riang. Ditempuh dengan perjalanan sejauh kurang lebih 3 jam dari Kairo, berangkat setelah sarapan kami tiba di Alexandria pada pukul 10.30 pagi.  Kota ini merupakan kota pelabuhan terbesar di Mesir karena letaknya yang berada di pinggir laut Mediterania. Oleh karena pantai-pantainya yang indah itu pula, banyak wisatawan menghabiskan waktu musim panas untuk berlibur disana.

Sejak di awal masuk kota Alexandria, kota ini terlihat lebih rapi tertata dan bersih dibandingkan dengan Kairo. Nuansa bangunan khas Eropa yang berwarna putih gading dan kecoklatan juga banyak mendominasi  sepanjang perjalanan dalam kota. Usut-usut,  ternyata  nuansa  ini dibawa oleh bangsa Perancis pada saat Napoleon Bonaparte melakukan lawatan ke Mesir diakhir abad 17.

Perjalanan saya bersama rombongan memberikan kesan yang mendalam, melihat bangunan tinggi khas Mesir, ini adalah hari kedua saya berada di negeri Mesir, menyusuri ramainya kota Alexandria sembari menikmati keindahan Laut Merah dan sejuknya pantai Meditarenia, mengunjungi Istana Sultan Al Faruq sambil mengenang sejarah peradaban dan kejayaan Islam di Masjid Abu Al Abbas Al Mursi tak lupa menikmati sajian khas kuliner ala ratu Cleopatra. Sungguh inilah ayat-ayat cinta dari Allah untuk selalu kita syukuri.

 

Melihat Keindahan Istana Montazah miliik Sultan Al Faruq

IMG20171225110150

Raja Farouk adalah Raja terakhir yang berkuasa di pemerintahan monarki Mesir, dalam kekuasaanya tahun 1932 dia membangun sebuah istana tempat beristirahat dengan area seluas 155 hektar. Terletak di jantung kota Alexandria.  istana Raja Farouk dan Taman Montaza. Wilayah  seluas sekitar 155 hektare ini pernah ditinggali sebagai kediaman Raja Farouk yang merupakan keturunan terakhir dari Dinasti Muhammad Ali yang menjadi penguasa Mesir sejak abad ke-19. Raja ini ternyata dalam sejarahnya adalah raja yang suka berfoya-foya dan menjadi tidak disukai rakyatnya sehingga digulingkan lewat kudeta militer. Konon, dimasa sulit perang dunia II dimana sebagian rakyatnya hidup dengan keprihatinan, raja Farouk tetap gemar hidup dalam kemewahan. Dia bahkan meminta agar seluruh lampu istananya dinyalakan terang menderang ketika seluruh rakyatnya diminta untuk memadamkan lampu dengan alasan efisiensi.

Kudeta yang dilakukan oleh Gamal Abdul Nasser ini  merubah sejarah kepemimpinan sistem kerajaan Mesir menjadi sistem republik dimana Gamal Abdul Nasser lalu menjadi pemimpin selanjutnya di Mesir. Raja Farouk  lalu hidup dalam pengasingan di Monaco dan kabarnya meninggal ketika berada di jamuan makan di Italia.

IMG20171225135305

Menikmati Keindahan Pantai Alexandria

Kurang lengkap rasanya berada di kota cantik ini tanpa singga sebentar di pantai Alexandria, pantai di tepi laut merah ini memang menawarkan sejuta keindahan. Pantai Alexandria tak pernah sepi dari pengunjung, saat saya kesini, ini lagi musim dingin tapi pengunjung cukup banyak. Panjang pantai yang mencapai 25 km itu menjadi tempat tongkrongan siapa saja yang ingin menikmati keindahan alam ciptaan Allah. Meski beberapa tempat telah dikomersilkan, tapi ada beberapa lokasi yang masih dibuka untuk umum secara gratis. Tempat inilah yang biasanya menjadi favorit mahasiswa Indonesia seperti saya. Meski tak senyaman beberapa lokasi yang dikomersilkan tadi, lokasi untuk umum ini justru terasa lebih asyik karena saya bisa berbaur dengan ratusan warga Mesir dari yang tua hingga balita.

23365

Benteng Fort Qaitbey

Rombongan kami menyempatkan mengunjungi  satu tempat namanya “Qaitbay”, salah satu bagian dari Kota Alexandria. Letaknya berhadapan dengan laut tengah Mediterania. Angin lautnya membawa suasana dua benua, antara Eropa dan Afrika Utara. Ini adalah benteng bergaya romawi kuno dibangun oleh dinasti Mamluk. Menyusurinya  seolah-olah membuat kita hanyut dan hidup pada abad lampau.   Jika melawat ke Alexandria, memang tidak lengkap jika tidak mampir ke Benteng Qaitbay. Benteng yang anggun dan indah ini terletak di tepi Laut Mediterania. Benteng ini dibangun oleh sultan dari Dinasti Mamluk, yaitu Sultan Al Ashraf An Nashr Syaifudin Qaitbay pada tahun 1423 M. Fungsinya ya apalagi kalau bukan untuk menahan serangan yang selalu datang hendak mencaplok Mesir. Sayang kami tidak bisa berlama-lama berada dibenteng ini, belum sempat masuk dan menikmati keindahan di dalam benteng.

IMG20171225132822

Kemegahan Masjid Abu al-Abbas al-Mursi

Keindahan kota Alexandria sesungguhnya tak sebatas rupa alamnya semata. Lebih dari itu, keindahan itu rupanya telah melebur dengan bangunan-bangunan bersejarah yang menyelipkan keagungan mahakaryanya.   Satu di antaranya yang  saya kunjungi adalah Masjid Abu al-Abbas al-Mursi. Sekalian menunaikan sholat dhuhur siang ini saya bersama rombongan berkesempatan melihat secara langsung masjid yang berdiri pada 1775.

Masjid ini begitu kental dengan gaya arsitektur Mamluk. Gaya ini menjadi representasi dari Dinasti Islam Mamluk yang pernah berkuasa di Mesir dan Siria sepanjang abad ke-13. Selama masa berkuasa itulah, begitu banyak terlahir bangunan yang sarat dengan seni yang tampak rumit, tapi indah dipandang.

Dari sisi luar, masjid ini terlihat begitu anggun dengan warna kremnya. Seperti gaya Mamluk pada umumnya, masjid ini memiliki kubah berbentuk silinder seperti drum. Di bagian atas kubahnya meruncing. Lantas, untuk mempercantik tampilan kubah, dihadirkanlah hiasan ukiran yang tampak begitu detail dan mengisi seluruh bagian kubah.

Lalu, di sisi selatan terlihat juga sebuah menara setinggi 73 meter. Bentuk menaranya juga tampak khas. Bagian dasarnya menempel dengan bangunan masjid berbentuk persegi. Lalu, naik ke bagian atasnya tampak bangunan berbentuk oktagonal atau bersegi delapan. Sedangkan, pada bagian teratasnya memiliki bentuk bulat.

Masjid Abu al-Abbas al-Mursi menjadi salah satu bangunan bersejarah dan paling indah yang ada di Alexandria. Bangunan ini didirikan di atas makam seorang ilmuwan Spanyol, Abu El Abbas El Mursi (1219-1286). Bangunan ini berdiri di alun-alun dan menghadap pelabuhan timur Alexandria.  Abu al-Abbas al-Mursi lahir dari keluarga kaya di wilayah Andalusia, Spanyol, pada 1219. Saat pengaruh Kristen menguat di Spanyol, ia bersama keluarganya hijrah ke Tunisia pada 1242. Selanjutnya, ia datang ke Alexandria yang saat itu menjadi tempat populer bagi kebanyakan ilmuwan Muslim.

Namun sayang, ada satu kesan yang kurang nyaman saya dapatkan di sini, masjid penuh sejarah ini terkesan kurang dirawat dengan baik. Fasilitas wudhu dan toilet sangat jorok, sehingga bagi wisatawan yang kesini untuk menunaikan sholat tidak direkomendasikan menggunakan toilet, sebaiknya berwudhu ditempat lain.

Inilah spenggal kisa perjalaan di kota cantik Alexandria, mengenang sejarah kejayaan Islam dan peradaban Mesir kala itu. Ini menjadikan kita mengerti bahwa Islam agama yang besar dengan sejarah keagungan yang patut kita syukuri.

Share to Media

Related For Sehari di Kota Alexandria